Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menjelaskan terkait rencana pembangunan kantor baru Majelis Ulama Indonesia (MUI) setinggi 40 lantai di jantung Jakarta. Menurut Nasaruddin, gedung itu disuguhkan karena dia merasa malu jika menjadi menteri agama tidak bisa menghadirkan kantor layak bagi para pemimpin umat.
"Saya malu ya, percuma saya jadi menteri agama kalau tidak bisa menghadirkan tempat yang layak buat para pemimpin umat kita. Kita umat (Islam) paling besar sedunia, tapi belum punya sekretariat,” kata Nasaruddin saat menghadiri acara Mukernas I MUI di Jakarta, Kamis (12/2).
Advertisement
Kantor MUI Tak Layak
Nasaruddin menilai, kantor MUI saat ini sudah tidak layak. Bahkan hanya untuk sekedar parkir kendaraan sangat sulit. Menurut dia, hal itu berbeda jauh dengan kantor organisasi keagamaan lain.
"Tanpa bermaksud membandingkan, saudara kita KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) itu di Menteng, enam lantai, luxury di dalamnya. Kita? Tempat parkirnya susah sekali. Dalamnya, maaf ya, enggak layaklah bagi (negara) dengan umat Islam terbesar di dunia kantornya seperti itu,” ujar Nasaruddin.
Berangkat dari niat tersebut, Nasaruddin kemudian mengatakan berkomunikasi dengan Presiden Prabowo dan gayung pun bersambut.
“Alhamdulillah titik terang bapak-Ibu sekalian. Itu semuanya karena berkat doanya para ulama, para kiai juga, saya hanya melaksanakan amanah,” kata Nasaruddin yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini.
Advertisement
Bukan Terkait Board of Peace
Nasaruddin menegaskan, niatan untuk memberikan MUI gedung baru tidak terkait sikap MUI memandang keterlibatan pemerintah Indonesia dalam keanggotaan board of peace (BOP). Sebab, jauh sebelum kehadiran BOP, Nasaruddin mengaku sudah menyuarakan soal gedung baru MUI kepada Presiden Prabowo.
Menurut Nasaruddin, satu hal yang perlu diketahui bahwa nantinya mereka yang berkantor di sana tidak hanya dari MUI, namun juga ada organisasi seperti Lembaga Pengelola Dana Umat (LPDU).
“Bapak Presiden ingin melihat dana-dana umat yang belum terolah dengan baik secara profesional, itu diberikan tempat supaya lebih profesional juga dan itu akan menjadi bimbingan (MUI). Jadi itu (gedung) sebenarnya bukan sepenuhnya untuk (MUI) tapi untuk pemeliharaan dana umat yang ada dalam masyarakat kita,” jelas Nasaruddin.
“(Sebab) duluan kita dari pada BOP. BOP kan baru kemarin, sedangkan LPDU ini tahun lalu. Jadi sama sekali tidak ada kaitannya, kita sudah launching bersama Bapak Presiden pada tahun lalu,” tandas Nasaruddin.