Mahasiswa Papua Tari Nasional: OAP Harumkan Nama KTI di Ajang Tari Nasional

Mahasiswa Papua berhasil meraih juara di kompetisi tari regional dan siap mewakili Kawasan Timur Indonesia di ajang tari nasional, membawa pesan konservasi alam melalui gerakan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mahasiswa Papua Tari Nasional: OAP Harumkan Nama KTI di Ajang Tari Nasional
Mahasiswa Papua Menari dari OAP menjuarai kompetisi tari KTI dengan mengangkat tema alam yang mendalam. Kemenangan ini mengantar mereka mewakili Kawasan Timur Indonesia di ajang nasional. (AntaraNews)

Makassar, 30 Januari – Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia, Tanah Papua, menorehkan prestasi gemilang di ajang menari regional. Mereka berhasil menjuarai kompetisi iForte National Dance Competition “Inspirasi Diri” yang diselenggarakan di Makassar. Kemenangan ini secara otomatis mengantarkan mereka untuk mewakili Kawasan Timur Indonesia (KTI) di tingkat nasional.

Kelompok penari dari sanggar Original Art Papua (OAP) ini memukau para juri dengan tarian bertema alam yang kaya makna. Konsep tarian mereka secara mendalam mengangkat alam sebagai entitas hidup dan sumber pembelajaran yang tak ternilai. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata potensi seni dan budaya yang luar biasa dari Tanah Papua.

Kompetisi yang berlangsung di Kota Makassar pada Kamis lalu tersebut menjadi panggung pembuktian bagi OAP. Mereka berhasil mengalahkan dua pesaing tangguh, yaitu Tolopani dari Universitas Negeri Gorontalo dan Baine Maellok dari Universitas Ciputra Makassar. Selanjutnya, OAP akan bersaing di ajang nasional yang dijadwalkan pada bulan April mendatang.

Filosofi Alam dalam Gerak Tari Mahasiswa Papua

Steven Lazarus Kawer, salah satu penari dari Original Art Papua (OAP), mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya yang mendalam atas pencapaian ini. Ia menyatakan bahwa kedatangan mereka ke Makassar tidaklah sia-sia setelah berhasil meraih gelar juara. Konsep karya tari mereka berakar kuat dari alam sebagai entitas yang hidup dan memberikan inspirasi.

Bagi masyarakat Papua, alam tidak hanya dipahami sebagai ruang kehidupan semata, melainkan juga sebagai sumber ilmu yang tak terbatas. Alam mengajarkan pentingnya melestarikan, menghormati, dan memanfaatkan sumber daya yang telah Tuhan berikan secara bijak. Ini merupakan prinsip fundamental untuk keberlanjutan hidup dan budaya mereka.

Gagasan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam ini diekspresikan OAP melalui koreografi tari yang unik dan penuh makna. Mereka fokus pada gerakan kaki yang dinamis, penggunaan properti yang relevan, serta desain kostum dan busana yang simbolis. Setiap elemen dalam tarian ini memiliki makna yang kuat dan mendalam.

Simbolisme Dayung dan Identitas Budaya Papua

Salah satu properti utama yang digunakan dalam tarian Original Art Papua (OAP) adalah dayung, yang memiliki peran sentral dalam narasi mereka. Dayung melambangkan masyarakat Papua di wilayah pesisir yang menggantungkan hidupnya pada laut. Aktivitas mencari ikan dan melaut adalah bagian tak terpisahkan dari identitas serta keberlanjutan hidup mereka.

Lebih lanjut, properti dayung dieksplorasi dalam koreografi untuk merepresentasikan masyarakat yang hidup di wilayah pegunungan. Dayung secara visual dan gerak ditransformasikan menjadi simbol tombak atau alat berburu. Ini menggambarkan relasi erat manusia dengan alam serta aktivitas berburu sebagai bagian dari budaya untuk bertahan hidup.

Seluruh elemen artistik ini kemudian dirangkai apik oleh tim yang beranggotakan empat orang menjadi satu kesatuan koreografi. Hasilnya adalah tarian yang merefleksikan identitas, keberagaman, dan filosofi hidup masyarakat Papua secara komprehensif. Tarian ini menjadi jendela ke kekayaan budaya dan kearifan lokal mereka.

Antusiasme Tinggi di Ajang Kompetisi Nasional

Head of Marketing Communication iForte, Victor Sihombing, menjelaskan bahwa kegiatan serupa akan digelar di 12 kota lainnya di Indonesia. Proses kurasi awal untuk seluruh peserta di Indonesia dilakukan secara daring, termasuk untuk wilayah Kawasan Timur Indonesia. Hal ini menunjukkan jangkauan luas dan inklusivitas acara tersebut.

Makassar menjadi kota kelima dari total 13 kota yang akan menjadi tempat penyelenggaraan sepanjang tahun ini. Acara ini juga merupakan seri kedua dari kompetisi yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan tahun lalu. Terdapat dua kategori utama dalam kompetisi ini, yaitu tingkat SMA/SMK Sederajat dan perguruan tinggi.

Di Makassar, terdapat 13 peserta yang berhasil lolos dari total 45 pendaftar untuk bersaing secara langsung (offline). Menurut Victor Sihombing, hal ini menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi dari para pelajar dan mahasiswa terhadap ajang kompetisi seni tari berskala nasional ini. Makassar sendiri dipandang sebagai kota dengan kekayaan seni dan budaya yang tinggi.

Melalui kompetisi ini, diharapkan mampu mendorong gerakan kebudayaan yang berkelanjutan, khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa. Ajang ini menjadi platform penting untuk mengapresiasi dan mengembangkan talenta-talenta muda di bidang seni tari, sekaligus melestarikan budaya bangsa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi