Jadi Salah Satu Daerah dengan Produksi Babi Terbesar di Indonesia, Bali Waspada Penyebaran Virus Nipah

Virus Nipah termasuk penyakit zoonosis, yakni infeksi yang menular secara alami dari hewan ke manusia.

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Jadi Salah Satu Daerah dengan Produksi Babi Terbesar di Indonesia, Bali Waspada Penyebaran Virus Nipah
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus memantau perkembangan kasus Virus Nipah di India, khususnya di Benggala Barat, guna memastikan tidak ada Warga Negara Indonesia (WNI) yang terdampak wabah mematikan ini. (AntaraNews)

Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Nipah, terutama melalui hewan ternak babi. Langkah antisipasi ini dilakukan mengingat Bali merupakan salah satu daerah dengan produksi babi terbesar di Indonesia, sehingga berisiko jika terjadi penularan penyakit zoonosis tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti menjelaskan, virus Nipah termasuk penyakit zoonosis, yakni infeksi yang menular secara alami dari hewan ke manusia.

"Penyakit zoonosis dalam arti ditularkan melalui hewan. Nah, dalam hal ini kalau kita lihat di literatur virus Nipah ini kan sebenarnya virus yang memang sudah ada di kelelawar," kata Ayu Raka, di Kantor Dinkes Bali, Kamis (29/1).

Ia menerangkan, kelelawar merupakan inang alami virus tersebut. Dari hewan ini, virus dapat menyebar ke hewan lain, termasuk babi, yang berpotensi menjadi perantara penularan ke manusia.

"Dari kelelawar juga bisa menginfeksi binatang lainnya. Kalau kita lihat kelelawar ini adalah merupakan inangnya dan hewan lain seperti babi itu merupakan host yang bisa mereplikasi virus ini, sehingga bisa menularkan kepada manusia," imbuhnya.

Pengalaman dari Negara Lain

Pengalaman negara lain menjadi pelajaran penting. Ia mencontohkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di Malaysia pada 1998–1999, ketika pemerintah setempat harus memusnahkan banyak ternak babi untuk menghentikan penularan virus.

"Setelah kita mengetahui jenis virus ini, baru kita bisa berbicara tentang pencegahan. Pencegahan tentu yang pertama adalah kita mengimbau kepada masyarakat untuk kita mengantisipasi atau mencegah dengan tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mencuci tangan ataupun tidak mengkonsumsi makanan yang setengah matang," lanjutnya.

Selain menjaga kebersihan, masyarakat juga diimbau berhati-hati terhadap konsumsi buah yang kemungkinan telah terkontaminasi air liur kelelawar.

Ia menyatakan, virus Nipah ini normal hidup pada kelelawar dan tentu untuk mencegah ialah tidak mengkonsumsi buah yang sudah pernah digigit atau dimakan kelelawar.

"Biasanya, kelelawar makannya buah untuk mencegah tidak mengkonsumsi buah yang sudah digigit oleh kelelawar," jelasnya.

Inspeksi dan Pengawasan Kesehatan Ternak Babi

Untuk memperkuat pencegahan, Dinkes Bali juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian guna melakukan inspeksi dan pengawasan kesehatan ternak babi. Meski hingga kini belum ditemukan virus Nipah pada babi di Indonesia, kewaspadaan tetap ditingkatkan.

"Itu sudah ada penelitian sebelumnya. Jadi tentu ini yang tetap kita amankan. Tentu kami juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk kewaspadaan terhadap Nipah di hewannya. Jadi koordinasinya sudah sangat sering seperti rabies, itu kan kita tetap berkoordinasi, flu burung juga kita berkoordinasi. Jadi ini tentu bukan suatu hal yang baru dalam bentuk koordinasi," ujarnya.

Ia juga mengingatkan peternak untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan.

"Kami di kesehatan tentu mengimbau masyarakat salah satunya tidak mengkonsumsi daging tidak matang, mencuci tangan. Peternak babi, tetap menggunakan APD (alat pelindung diri) rajin mencuci tangan. Kalau misalnya bergejala demam atau flu, tetap segera ke fasilitas pelayanan kesehatan," jelasnya.

Menurutnya, penularan dapat terjadi melalui air liur kelelawar yang menempel pada buah, lalu dikonsumsi manusia atau hewan ternak.

“Virus Nipah ini ada di air liur kelelawar, kalau dia misalnya makan buah air liurnya di situ, kemudian sisanya kita atau binatang seperti babi yang konsumsi jadi bisa terinfeksi, itu yang kita harus waspadai,” ungkapnya.

Perketat Pengendalian di Pintu Masuk Wilayah

Selain pengawasan di tingkat peternakan, Dinkes Bali juga memperketat pengendalian di pintu masuk wilayah melalui Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK), baik di bandara maupun pelabuhan. Pengawasan difokuskan pada pelaku perjalanan dari negara-negara yang melaporkan kasus, seperti Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Thailand.

Hingga kini, Bali belum menemukan kasus virus Nipah. Meski demikian, surveilans kesehatan terus dilakukan secara aktif. Seluruh fasilitas kesehatan disebut telah siap, mulai dari puskesmas, rumah sakit daerah, hingga rumah sakit swasta, termasuk ketersediaan ruang isolasi, tenaga medis, dan obat-obatan.

"Kalau kita lihat di Bali dengan 120 Puskesmas, masing-masing sudah ada RSUD (di setiap kabupaten dan kota). Kemudian rumah sakit swasta juga siap dengan ruang isolasi dan tenaganya, kami yakin semua siap. Saya yakin semua fasilitas kesehatan siap, karena kita sudah belajar dari Covid-19," ujarnya.

Lonjakan Virus Nipah Terjadi di India

Sebelumnya, lonjakan kasus virus Nipah dilaporkan terjadi di India. Menyikapi perkembangan tersebut, Kementerian Kesehatan RI turut memantau situasi global.

Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), per 23 Januari 2025 tercatat dua kasus konfirmasi dan tiga kasus suspek virus Nipah di West Bengal, India, tanpa laporan kematian.

Sementara itu, Indonesia belum mencatat adanya kasus.

"Hingga saat ini belum dilaporkan adanya kasus konfirmasi penyakit virus nipah di Indonesia," seperti dikutip dari keterangan yang dibagikan Juru Bicara Kemenkes, Widyawati pada Selasa,( 27/1).

Rekomendasi