Ratusan penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut), masih harus bertahan di ruang-ruang kelas SMA Negeri 1 Tukka. Mereka telah mengungsi di lokasi tersebut sejak banjir bandang dan longsor menyapu rumah penduduk pada akhir November 2025. Situasi ini menimbulkan tantangan besar bagi para penyintas dan juga mengganggu aktivitas pendidikan di sekolah tersebut.
Hingga Selasa (28/1), tercatat ada 162 kepala keluarga dengan total 672 jiwa yang masih menempati fasilitas sekolah. Kepala Kepling 3 Tukka, Mardiana Tambunan, menjelaskan bahwa jumlah pengungsi ini meliputi 280 laki-laki dan 392 perempuan. Kondisi ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan hunian layak bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal.
Para pengungsi berasal dari dua desa yang terdampak parah, yaitu Desa Tukka dan Desa Hutanabolon. Mereka terpaksa mengungsi karena rumah mereka hancur total dan tidak lagi dapat ditinggali. Saat ini, mereka menanti bantuan hunian sementara (huntara) atau hunian tetap (huntap) dari pemerintah.
Advertisement
Advertisement
Kondisi Terkini Pengungsi Penyintas Bencana Tukka
Data pengungsi di SMAN 1 Tukka menunjukkan kerentanan populasi yang tinggi. Di antara 672 jiwa, terdapat 130 anak-anak, 63 balita, 25 bayi, serta 66 lansia. Selain itu, kondisi semakin kompleks dengan adanya empat penyandang disabilitas, lima ibu hamil, dan 25 ibu menyusui yang juga menetap di 27 ruang kelas sekolah tersebut.
Mardiana Tambunan menyampaikan bahwa jumlah pengungsi sebelumnya lebih banyak, namun sebagian telah kembali ke rumah masing-masing setelah air surut dan rumah mereka masih layak ditempati. Namun, bagi ratusan keluarga yang tersisa, rumah mereka telah rata dengan tanah, sehingga mereka sangat bergantung pada bantuan hunian. Jumlah huntara yang tersedia saat ini masih belum mencukupi, mendorong pihak terkait untuk terus mendesak pemerintah agar segera menyediakan bantuan yang memadai.
Selama di pengungsian, bantuan makanan diberikan kepada para penyintas melalui dapur umum. Mayoritas pengungsi berprofesi sebagai petani dan pekebun karet. Sayangnya, lahan pertanian dan kebun karet mereka kini telah terendam lumpur, kayu, dan pasir, menyebabkan hilangnya mata pencarian utama mereka. Kondisi ini menambah beban ekonomi dan psikologis bagi para penyintas.
Advertisement
Advertisement
Dampak pada Pendidikan di SMAN 1 Tukka
Penggunaan 27 ruang kelas SMAN 1 Tukka sebagai tempat pengungsian telah berdampak signifikan terhadap proses belajar mengajar. Kepala SMA Negeri 1 Tukka, Faisal Napitupulu, menjelaskan bahwa 940 siswa yang terbagi dalam 27 rombongan belajar terpaksa harus beradaptasi dengan kondisi ini. Aktivitas belajar mengajar di sekolah dimulai pada 5 Januari 2025, namun hanya sebagian siswa yang dapat mengikuti pembelajaran luring.
Akibat keterbatasan ruang, sebagian siswa terpaksa belajar di tenda darurat, sementara yang lain menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Dengan bertambahnya jumlah tenda, empat kelas kini dapat belajar di sana. Namun, kondisi belajar di tenda sangat tidak ideal, dengan siswa mengeluhkan suhu panas yang ekstrem. Pembelajaran di tenda berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB setiap harinya.
Faisal Napitupulu berharap para penyintas dapat segera keluar dari sekolah agar aktivitas belajar mengajar dapat kembali normal. Situasi ini menimbulkan keprihatinan mendalam terhadap kualitas pendidikan anak-anak SMAN 1 Tukka yang terganggu akibat bencana dan kondisi pengungsian yang berkepanjangan.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Pemulihan dan Harapan Penyintas Bencana Tukka
Tantangan terbesar bagi para penyintas bencana Tukka adalah pemulihan kehidupan mereka pasca-bencana. Kehilangan rumah dan mata pencarian menjadi hambatan utama dalam proses ini. Ketergantungan pada bantuan hunian sementara atau tetap menunjukkan urgensi intervensi pemerintah untuk menyediakan solusi jangka panjang.
Meskipun bantuan makanan dari dapur umum telah meringankan beban, keberlanjutan hidup mereka sangat bergantung pada pemulihan ekonomi dan tempat tinggal yang layak. Para penyintas sangat membutuhkan dukungan untuk membangun kembali rumah mereka dan memulihkan lahan pertanian yang rusak. Dorongan kepada pemerintah untuk mempercepat penyediaan huntara atau huntap terus disuarakan oleh pihak pengelola pengungsian.
Dampak pada pendidikan juga menjadi perhatian serius. Gangguan belajar yang dialami ratusan siswa SMAN 1 Tukka berpotensi menimbulkan kerugian jangka panjang bagi generasi muda. Oleh karena itu, solusi komprehensif yang tidak hanya mencakup kebutuhan dasar penyintas tetapi juga memastikan keberlanjutan pendidikan anak-anak menjadi sangat penting.
Advertisement
Sumber: AntaraNews