Kemensos Kaji Transformasi Program Makan Bergizi Gratis dan Peran Pengasuh untuk Lansia-Disabilitas

Kementerian Sosial tengah mengkaji **Transformasi Program Kemensos** permakanan menjadi Makan Bergizi Gratis, sekaligus memperkuat peran pengasuh bagi lansia dan penyandang disabilitas, guna efisiensi dan peningkatan kualitas layanan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemensos Kaji Transformasi Program Makan Bergizi Gratis dan Peran Pengasuh untuk Lansia-Disabilitas
Kementerian Sosial tengah mengkaji transformasi program pemberian makanan gratis bagi lansia dan penyandang disabilitas, mengintegrasikannya dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk efisiensi dan peningkatan layanan. (AntaraNews)

Kementerian Sosial (Kemensos) tengah menggodok rencana strategis untuk mereformasi program permakanan yang ditujukan bagi kelompok lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas. Inisiatif ini bertujuan untuk mengintegrasikan program tersebut dengan skema Makan Bergizi Gratis, sambil memperkuat peran vital para pengasuh atau caregiver. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyatakan bahwa upaya ini merupakan langkah progresif untuk meningkatkan efektivitas dan jangkauan bantuan sosial kepada masyarakat rentan. Transformasi ini diharapkan dapat mengatasi berbagai tantangan logistik dan biaya yang selama ini menghambat penyaluran bantuan.

Sejak tahun 2025, Kemensos telah berhasil menyalurkan program permakanan kepada lebih dari 100 ribu lansia penerima manfaat. Program ini secara spesifik menargetkan warga berusia di atas 75 tahun yang hidup mandiri atau tinggal sendirian, dengan verifikasi berdasarkan data Kartu Keluarga (KK) yang valid. Apabila alokasi anggaran memungkinkan, cakupan program juga dapat diperluas untuk menjangkau lansia di bawah usia 75 tahun yang membutuhkan dukungan serupa.

Selain lansia, bantuan permakanan juga diberikan kepada penyandang disabilitas berdasarkan usulan pemerintah daerah dengan kriteria tertentu. Pengkajian ini mencerminkan komitmen Kemensos untuk terus berinovasi dalam memberikan pelayanan sosial yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Fokus pada integrasi program dan penguatan peran pengasuh diharapkan mampu menciptakan sistem dukungan yang lebih holistik bagi kelompok rentan ini.

Selama ini, proses penyaluran program permakanan oleh Kemensos menghadapi kendala signifikan terkait biaya distribusi yang tinggi. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa setiap kali petugas mengantar makanan ke satu titik, terdapat biaya layanan yang berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu. Angka ini menunjukkan adanya inefisiensi yang perlu diatasi demi keberlanjutan dan optimalisasi anggaran program sosial.

Melihat kondisi tersebut, Kemensos mengusulkan agar program permakanan yang ada saat ini ditransformasi menjadi program Makan Bergizi Gratis. Perubahan ini tidak hanya sekadar pergantian nama, melainkan juga restrukturisasi mekanisme penyaluran agar lebih efisien dan tepat sasaran. Dengan integrasi ke dalam skema Makan Bergizi Gratis, diharapkan biaya operasional dapat ditekan, sehingga lebih banyak anggaran yang bisa dialokasikan langsung untuk penerima manfaat.

Transformasi ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk memastikan setiap warga negara mendapatkan akses terhadap makanan yang bergizi. Fokus pada makanan bergizi gratis akan menjamin bahwa lansia dan penyandang disabilitas tidak hanya mendapatkan asupan kalori, tetapi juga nutrisi yang memadai untuk kesehatan mereka. Ini adalah langkah penting menuju peningkatan kualitas hidup kelompok rentan di Indonesia.

Selain **Transformasi Program Kemensos** dalam hal permakanan, Kementerian Sosial juga secara serius mengkaji penambahan jumlah pengasuh terlatih dan bersertifikat. Para pengasuh ini akan berperan penting dalam mendampingi lansia dan penyandang disabilitas, terutama mereka yang hidup sendiri dan sangat membutuhkan dukungan perawatan harian. Kehadiran pengasuh diharapkan dapat memberikan bantuan yang lebih personal dan komprehensif.

Peran pengasuh tidak hanya terbatas pada penyaluran makanan, tetapi juga mencakup pendampingan, perawatan dasar, serta dukungan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik masing-masing penerima manfaat. Hal ini akan memastikan bahwa lansia dan penyandang disabilitas mendapatkan perhatian yang lebih holistik, melampaui sekadar kebutuhan pangan. Kualitas hidup mereka diharapkan akan meningkat secara signifikan dengan adanya dukungan ini.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyoroti bahwa kebutuhan akan pengasuh di masyarakat sangatlah besar, tidak hanya untuk lansia dan penyandang disabilitas, tetapi juga untuk anak-anak, termasuk di fasilitas seperti Taman Anak Sejahtera. Potensi ini tidak hanya terbatas di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri, yang secara langsung mendorong pengembangan ekonomi perawatan atau care economy. Penciptaan lapangan kerja di sektor ini akan menjadi peluang besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan SDM. Meskipun masih dalam tahap simulasi dan pengkajian, peluang untuk mewujudkan program ini sangat besar.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi