Advertisement
Integrasi Budaya dalam Sistem Pendidikan Nasional
Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menyampaikan bahwa revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas) memiliki manfaat signifikan dalam menjaga kelestarian nilai-nilai budaya melalui sistem pendidikan. Pernyataan ini disampaikan Fikri di Jakarta pada Jumat, 2 Januari, menyoroti urgensi penguatan identitas bangsa di tengah dinamika global.
Komisi X DPR RI saat ini sedang intensif mendiskusikan revisi RUU Sisdiknas. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa integrasi nilai-nilai budaya tetap terjaga dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional, meskipun struktur kementerian terkait telah mengalami perubahan.
Dengan memasukkan nilai-nilai budaya ke dalam sistem pendidikan, diharapkan warisan leluhur di tanah air tidak hanya menjadi pengingat masa lalu. Lebih dari itu, budaya diharapkan terus hidup, berkembang, dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, serta menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Advertisement
Advertisement
Peran Kemitraan dan Transformasi Kebudayaan
Fikri juga menekankan pentingnya nilai-nilai ketimuran dan spiritualitas yang terkandung dalam budaya Indonesia untuk terus dijiwai oleh masyarakat. Hal ini krusial agar nilai-nilai tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada dan tetap menjadi fondasi karakter bangsa.
Ia menyoroti upaya pelestarian budaya, seperti musik keroncong, setelah menghadiri perhelatan Semarak Budaya 2025 bertajuk Pagelaran Musik Keroncong di Gedung Rakyat, Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Acara ini merupakan wujud nyata kemitraan strategis antara Komisi X DPR RI dengan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) dalam memperkuat jati diri bangsa melalui seni musik tradisional.
Dalam acara tersebut, puluhan grup musik keroncong menunjukkan kebolehannya dengan menampilkan aransemen konvensional maupun kolaborasi modern yang selaras dengan minat generasi muda. Panggung budaya tersebut semakin semarak dengan alunan lagu-lagu legendaris seperti "Bengawan Solo" dan "Gambang Semarang", bersanding dengan lagu-lagu kekinian yang dibalut nada keroncong khas. Selain sajian musik, para pengunjung juga disuguhi pameran keris, menambah kekayaan ragam budaya yang ditampilkan bagi masyarakat Tegal.
Advertisement
Fikri menyampaikan apresiasi mendalam atas terlaksananya kegiatan tersebut, terlebih dengan adanya transformasi struktur pemerintahan yang menempatkan Kementerian Kebudayaan sebagai lembaga mandiri. Ia menjelaskan, “kementerian yang dulunya tergabung dalam satu lembaga, kini dipisah menjadi tiga bagian, yakni Kementerian Kebudayaan (Kemenbud), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).”
Advertisement
Fondasi Karakter Bangsa melalui Budaya
Perubahan struktur kementerian ini, menurut Fikri, harus menjadi momentum penting untuk memberikan perhatian yang lebih serius terhadap sektor kebudayaan nasional. Dengan adanya kementerian yang lebih fokus, diharapkan kebijakan dan program pelestarian budaya dapat berjalan lebih efektif dan terarah.
Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah IX itu menegaskan bahwa kemajuan sebuah daerah sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat mampu menghargai serta memperhatikan akar budayanya sendiri. Akar budaya ini menjadi fondasi utama karakter bangsa yang kuat dan berintegritas.
Melalui pagelaran budaya dan integrasi nilai-nilai luhur dalam pendidikan, diharapkan identitas unik budaya Indonesia tetap tegak berdiri. Hal ini diharapkan menjadi kebanggaan bagi seluruh elemen masyarakat dalam merawat warisan leluhur demi masa depan bangsa yang berkarakter.
Advertisement
Sumber: AntaraNews