Beijing, 20 Desember 2025 — Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing menyatakan kesiapannya untuk terus mempererat hubungan bilateral dengan Tiongkok melalui pendekatan diplomasi yang dikenal sebagai 'persahabatan yang melampaui sekat formalitas'. Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk China dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, dalam acara 'Indonesia Updates' yang berlangsung di Beijing pada Jumat malam (19/12) waktu setempat. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam menghadapi berbagai dinamika global dan regional.
Dubes Djauhari menjelaskan bahwa tahun 2025 menandai perayaan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok, sebuah ikatan yang telah terjalin sejak berabad-abad lalu. Menurutnya, angka 75 bukan sekadar hitungan waktu, melainkan simbol kepercayaan yang telah dibangun lintas generasi, mencerminkan kedalaman dan keberlanjutan hubungan kedua negara. Ini adalah esensi dari 'persahabatan yang melampaui formalitas' yang terus diupayakan.
Acara 'Indonesia Updates' menjadi platform bagi KBRI Beijing untuk memaparkan kinerja perwakilan selama tahun 2025 kepada sekitar 100 warga negara Indonesia (WNI) dan mitra di Tiongkok. Momen ini juga digunakan untuk memperkenalkan Wakil Duta Besar RI untuk China, Irene, yang baru dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 8 Oktober 2025, menandai babak baru dalam kepemimpinan dan diplomasi Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Mempererat 'Persahabatan Lampaui Formalitas' dalam Hubungan RI-China
Konsep 'persahabatan yang melampaui formalitas' bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata dalam diplomasi yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak. Dubes Djauhari mencontohkan, praktik ini terwujud dalam berbagai bentuk, mulai dari pertemuan tingkat presiden, penjajakan bisnis, jamuan resmi, penerbangan langsung, hingga malam pemutaran film. Semua upaya ini menunjukkan komitmen kuat dalam memperdalam Hubungan RI-China.
Tahun 2025 menjadi periode penting bagi Indonesia dengan dimulainya era kepemimpinan presiden baru, Presiden Prabowo Subianto, yang membawa momentum baru menuju Visi Indonesia Emas 2045. Di sisi lain, Tiongkok juga menunjukkan komitmen untuk semakin terintegrasi dengan dunia global sambil memperkuat pasar domestiknya. Kedua negara memiliki tujuan pembangunan yang saling melengkapi.
Meskipun demikian, tahun 2025 juga diwarnai oleh berbagai ketidakpastian global, termasuk gangguan perdagangan dan rantai pasok, serta kondisi ekonomi dunia yang terasa rapuh. Dubes Djauhari menekankan bahwa kehangatan antara para pemimpin kedua negara mencerminkan hubungan yang lebih dalam, tidak semata-mata bertumpu pada formalitas, melainkan pada tujuan bersama. Ini adalah semangat yang diharapkan menjadi landasan dalam melihat seluruh kebersamaan Indonesia dan Tiongkok.
Advertisement
Advertisement
Lonjakan Perdagangan dan Investasi: Pilar Utama Hubungan Ekonomi RI-China
Hubungan RI-China menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan, bahkan di tengah ketidakpastian global. Dubes Djauhari mengungkapkan bahwa pada triwulan ketiga 2025, nilai perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok telah melampaui 137 miliar dolar AS, menunjukkan peningkatan sebesar 14,2 persen secara tahunan. Angka ini membuktikan efektivitas pendekatan yang diambil oleh kedua negara.
Di sektor investasi, nilai investasi Tiongkok di Indonesia pada tahun ini mencapai 5,4 miliar dolar AS, naik 13,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, dengan Hong Kong, nilai perdagangan mendekati 6 miliar dolar AS, dan nilai investasi mencapai 7,4 miliar dolar AS. Data ini mengindikasikan kepercayaan investor Tiongkok dan Hong Kong terhadap potensi ekonomi Indonesia.
Rizaldi Indra Janu, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) di Beijing yang mewakili Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (Kemeninveshil/BKPM), menambahkan bahwa sejak tahun 2020 hingga 2024, total investasi Tiongkok di Indonesia telah melampaui 37 miliar dolar AS. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan kerja nyata yang menciptakan lapangan kerja baru dan nilai tambah ekonomi, khususnya dalam mendukung hilirisasi dan transformasi industri nasional.
Advertisement
Advertisement
Potensi Ekonomi Indonesia dan Kontribusi Investasi China
Indonesia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa, didukung oleh pasar domestik yang besar dengan 280 juta jiwa, di mana 48 juta di antaranya adalah penduduk kelas menengah dan dua pertiga populasi sedang menuju kelas menengah. Selain itu, Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia, pemain utama di sektor energi dan baterai, serta berpotensi menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada tahun 2045.
Ekonomi digital Indonesia juga tumbuh pesat dengan populasi muda yang terkoneksi internet. Negara ini menguasai sekitar 40 persen potensi panas bumi dunia dan memiliki lebih dari 60 juta generasi muda yang menjadi aset berharga. Semua faktor ini menjadikan Indonesia tujuan investasi yang sangat menarik.
Investasi dari Tiongkok telah menyebar ke berbagai sektor dan daerah di Indonesia. Lima sektor utama investasi dari Tiongkok meliputi produksi logam dasar dan industri pengolahan senilai 16,57 miliar dolar AS (45%), transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar 6,41 miliar dolar AS (17%), kimia dan industri senilai 3,63 miliar dolar AS (10%), perumahan serta kawasan industri dan perkantoran sebesar 2,51 miliar dolar AS (7%), serta kelistrikan, gas, dan air sebesar 1,9 miliar dolar AS (5%). Sektor industri lainnya menyumbang 6,19 miliar dolar AS (17%).
Advertisement
- Produksi Logam Dasar & Industri Pengolahan: $16,57 miliar (45%)
- Transportasi, Pergudangan, & Telekomunikasi: $6,41 miliar (17%)
- Kimia & Industri: $3,63 miliar (10%)
- Perumahan, Kawasan Industri & Perkantoran: $2,51 miliar (7%)
- Kelistrikan, Gas, & Air: $1,9 miliar (5%)
- Sektor Industri Lainnya: $6,19 miliar (17%)
Adapun daerah utama tujuan investasi Tiongkok adalah Sulawesi Tengah senilai 13,56 miliar dolar AS (36,4%), Maluku Utara sebesar 6,51 miliar dolar AS (17,5%), Jawa Barat senilai 6,11 miliar dolar AS (16,4%), Jakarta sebesar 2,04 miliar dolar AS (5,5%), dan Banten sebesar 1,48 miliar dolar AS (4%). Daerah lainnya menyumbang sisa investasi. Hal ini menunjukkan kuatnya kinerja Tiongkok dalam mendukung sektor industri Indonesia, khususnya di luar Pulau Jawa, serta kontribusinya terhadap pengembangan industri nasional.
- Sulawesi Tengah: $13,56 miliar (36,4%)
- Maluku Utara: $6,51 miliar (17,5%)
- Jawa Barat: $6,11 miliar (16,4%)
- Jakarta: $2,04 miliar (5,5%)
- Banten: $1,48 miliar (4%)
Advertisement
Ke depan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM berencana untuk mempertahankan momentum ini dan meningkatkan berbagai upaya untuk mendorong investasi dari Tiongkok. Rizaldi menegaskan, “Kami menyongsong masa depan kerja sama China–Indonesia dengan mendorong investasi global yang berdampak nyata bagi perekonomian dan sosial.” Pada peringatan 75 tahun hubungan ini, pesan Dubes Djauhari sederhana: “Indonesia dan China tidak sekadar menjaga hubungan, tetapi membentuk masa depan bersama, masa depan di mana kedua bangsa tumbuh dan bangkit bersama.”
Dalam acara tersebut, KBRI Beijing juga memberikan penghargaan kepada sejumlah pihak yang dinilai berkontribusi dalam menjaga hubungan Indonesia–China, antara lain Bank Indonesia Perwakilan Beijing, Indonesia Chamber of Commerce in China (INACHAM), Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT), Sanggar Pelangi Yingde, serta platform komunitas konten video pendek Kuaishou.
Sumber: AntaraNews
Advertisement