Sektor pertanian di Indonesia saat ini menghadapi tantangan ganda akibat perubahan iklim global yang semakin nyata. Para ahli dan petani dituntut untuk mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan dan tangguh. Teknologi inovatif diperlukan untuk mengatasi dilema ini secara efektif dan efisien.
Di tengah kondisi tersebut, Biochar muncul sebagai solusi menjanjikan yang dapat mengubah wajah pertanian nasional. Teknologi sederhana ini telah diakui secara global sebagai kunci pertanian regeneratif dan bioekonomi sirkular. Biochar menawarkan jalan keluar dari tudingan bahwa pertanian menjadi penyebab perubahan iklim.
Biochar tidak hanya menyuburkan tanah untuk meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Lebih dari itu, material ini juga mampu menyimpan karbon di dalam tanah dalam jangka waktu yang sangat lama. Ini menjadikannya teknologi rendah karbon yang sangat dibutuhkan untuk masa depan pertanian Indonesia.
Advertisement
Advertisement
Manfaat Ganda Biochar untuk Pertanian dan Lingkungan
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa Biochar memiliki kemampuan luar biasa dalam meningkatkan kesehatan tanah. Material ini mampu meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), menjaga pH tanah tetap seimbang, serta meningkatkan kapasitas tanah dalam menyimpan air. Manfaat ini sangat krusial untuk menjaga kesuburan lahan pertanian.
Selain itu, Biochar juga berperan penting sebagai teknologi carbon dioxide removal (CDR). Material ini mampu mengunci karbon dalam kondisi stabil secara murah dan mudah dibuat. Dengan demikian, Biochar secara efektif mencegah pelepasan karbon ke atmosfer, menjadikannya komponen vital dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Biochar memberikan manfaat ganda bagi lingkungan dan produktivitas pertanian. Material ini terbukti mengurangi emisi metana (CH₄) dan dinitrogen oksida (N₂O) pada lahan sawah, meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, serta memperbaiki struktur tanah pada agroekosistem tropis yang rentan degradasi. Di dunia industri, Biochar juga bermanfaat untuk filterisasi air dan remediasi lahan terkontaminasi polutan.
Advertisement
Penelitian terbaru juga menunjukkan mekanisme penting dalam penyimpanan karbon jangka panjang melalui konsep microbiome–matrix–microbiome. Biochar bertindak sebagai matriks stabil yang menyediakan habitat ideal bagi mikroorganisme tanah, meningkatkan proses stabilisasi karbon organik. Sinergi ini menjadikan Biochar teknologi andalan dalam mitigasi perubahan iklim berbasis tanah.
Advertisement
Potensi Indonesia dengan Biomassa Melimpah
Indonesia, sebagai negara dengan basis biomassa melimpah, memiliki potensi besar untuk mengembangkan Biochar. Bahan baku seperti sekam padi, tongkol jagung, cangkang sawit, tempurung kelapa, hingga residu agroforestri dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan ini dapat mengungkit produktivitas pertanian sekaligus mitigasi perubahan iklim.
Riset Biochar di Indonesia telah menunjukkan dampak positif yang nyata di berbagai daerah. Pada demplot GENTA ORGANIK serta teknologi Biotron, aplikasi Biochar mampu meningkatkan hasil panen padi hingga 8–36 persen. Selain itu, penggunaan Biochar juga menekan kebutuhan pupuk hingga 20–60 persen, menunjukkan efisiensi yang signifikan.
Dari sisi ekonomi nasional, pengurangan ketergantungan pada pupuk anorganik melalui pemanfaatan Biochar berpotensi menghemat biaya hingga USD 4,6 miliar per tahun. Lebih lanjut, pemanfaatan limbah biomassa seperti sekam padi untuk produksi Biochar juga berpotensi menghasilkan nilai kredit karbon mencapai USD 565 juta per tahun. Hal ini menunjukkan potensi ekonomi yang sangat besar.
Advertisement
Dengan manfaat agronomis, ekonomi, dan lingkungan yang berjalan secara simultan, Biochar menjadi salah satu solusi paling strategis. Teknologi ini dapat memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mendukung target pembangunan rendah karbon Indonesia secara komprehensif.
Advertisement
Tantangan dan Urgensi Standar Mutu Biochar Nasional
Meskipun manfaat dan potensinya sangat besar, pengembangan Biochar di Indonesia masih menghadapi hambatan teknis dan kelembagaan. Salah satu kendala utama adalah belum adanya Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku untuk berbagai jenis bahan baku biomassa. Kondisi ini menyebabkan ketidakkonsistenan kualitas antar-produsen Biochar.
Di sisi lain, sistem measurement, reporting, verification (MRV) untuk kredit karbon berbasis Biochar masih terbatas pada skala percontohan. Kapasitas laboratorium terakreditasi nasional juga belum memadai untuk memenuhi kebutuhan industri yang berkembang pesat. Oleh karena itu, standar nasional sangat dibutuhkan ketika Biochar diproduksi dan dikembangkan secara komersial.
SNI Biochar berbahan baku kayu hutan yang telah disusun sebelumnya berbasis metode analisis proksimat menjadi acuan penting. Standar ini perlu diperluas agar mencakup berbagai sumber biomassa pertanian dan agroindustri yang menjadi ciri khas Indonesia. Analisis proksimat berperan penting untuk menentukan parameter karbon tetap (FC), volatile matter (VM), abu, serta prediksi suhu pirolisis.
Advertisement
Kolaborasi antara asosiasi seperti Asosiasi Biochar Indonesia (ABI), peneliti, pemerintah, maupun pihak luar negeri sangat diperlukan. Tata kelola Biochar nasional yang kredibel harus diperkuat untuk membuka peluang integrasi produksi Biochar skala petani ke dalam mekanisme kredit karbon, terutama di kawasan ASEAN. Dengan dukungan standardisasi, sertifikasi, pelatihan produksi, serta teknologi pirolisis ramah lingkungan, Biochar dapat menjadi solusi inklusif yang menguntungkan petani kecil sekaligus memperkuat aksi iklim regional.
Sumber: AntaraNews