Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini memprioritaskan upaya penyelamatan terhadap 450 jiwa yang terdampak bencana tanah longsor. Kejadian ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kelurahan Sriharjo, Kecamatan Imogiri, pada Jumat (21/11) lalu.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyatakan bahwa fokus utama pemerintah adalah memastikan keselamatan warga di Pedukuhan Wunut dan Sompok. Akses jalan yang menghubungkan kedua pedukuhan tersebut terputus setelah talut Sungai Oya di Wunut Sriharjo longsor.
Dampak longsor ini menyebabkan 300 jiwa di Wunut dan 150 jiwa di Sompok terisolasi, sehingga total 450 jiwa memerlukan penanganan segera. Pemerintah daerah telah menyiapkan langkah-langkah darurat untuk menjamin kebutuhan dasar dan keamanan para korban.
Advertisement
Advertisement
Akses Terputus dan Upaya Penanganan Darurat
Bencana tanah longsor di Imogiri telah menyebabkan terputusnya akses jalan utama antara Pedukuhan Sompok Sriharjo dan Wunut Sriharjo. Kondisi ini membuat distribusi logistik dan mobilitas warga menjadi sangat terbatas, memicu kekhawatiran akan ketersediaan kebutuhan pokok.
Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul segera mendirikan dua posko darurat. Posko pertama berlokasi di Sompok Sriharjo, sementara posko kedua didirikan di Kedungjati, Selopamiro, untuk mengantisipasi jalur alternatif.
Bupati Abdul Halim Muslih menjelaskan, "Maka kita juga membuat dua akses, yang pertama dari Sompok itu sendiri nanti untuk distribusi logistik barang maupun jasa ya pastilah melalui jalan-jalan yang tersedia, mungkin bisa melalui sawah." Upaya ini dilakukan untuk memastikan pasokan kebutuhan dasar tetap sampai kepada warga terdampak tanah longsor Imogiri.
Advertisement
Posko di Kedungjati juga disiapkan sebagai jalur logistik melalui jembatan gantung di Wunut, terutama jika ruas jalan Sompok-Wunut benar-benar tidak bisa dilalui. Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menghadapi tantangan aksesibilitas yang muncul.
Advertisement
Antisipasi Puncak Musim Hujan dan Jaminan Keselamatan Warga
Masa tanggap darurat bencana di Bantul telah diberlakukan mulai 21 November hingga 5 Desember, selama 14 hari ke depan. Prioritas utama dalam periode ini adalah keselamatan jiwa warga yang terdampak tanah longsor Imogiri.
Pemerintah daerah bersama relawan dan Kelurahan Sriharjo tengah menetapkan lokasi evakuasi potensial. Hal ini dilakukan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai puncak musim hujan.
BMKG memprediksi puncak musim hujan untuk wilayah Indonesia bagian barat akan terjadi pada bulan Desember 2025, sementara untuk wilayah selatan, termasuk Yogyakarta, puncaknya diperkirakan hingga Februari 2026. "Sehingga kalau kita menggunakan patokan Indonesia bagian Barat, maka puncak musim hujan ini bulan Desember, kalau kita menggunakan menggunakan wilayah Indonesia bagian selatan, Yogyakarta ini juga bagian dari selatan, maka kemungkinan puncaknya itu sampai Februari," kata Bupati.
Advertisement
Bupati Halim menegaskan komitmen pemerintah untuk menjamin kebutuhan hidup warga. "Maka dari posko logistik tidak boleh ada yang kelaparan, kurang makan atau tidak bisa memenuhi aktivitas hidup sehari-hari. Karena terputusnya akses itu yang pemerintah harus menjamin. Dan jika keadaan memburuk, maka evakuasi, relokasi warga pastilah akan kita lakukan," ujarnya, menunjukkan kesiapan untuk tindakan lebih lanjut demi keselamatan warga terdampak.
Sumber: AntaraNews