Tim gabungan penanggulangan bencana di Provinsi Riau mengerahkan armada udara untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda beberapa wilayah. Helikopter waterbombing dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau menjadi ujung tombak dalam operasi pemadaman ini.
Pada tanggal 28 Oktober, helikopter tersebut berhasil memadamkan tiga titik api di Rambah (Rokan Hulu), Kuok (Kampar), dan Bayas (Indragiri Hilir). Upaya ini dilakukan secara intensif mengingat lokasi kebakaran yang sulit dijangkau oleh tim darat.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau, Jim Gafur, menjelaskan bahwa medan berbukit dan jauhnya akses jalan menjadi tantangan utama. Oleh karena itu, pemadaman dari udara menjadi strategi paling efektif untuk mencegah meluasnya api.
Advertisement
Advertisement
Strategi Pemadaman di Medan Berbukit
Pemadaman karhutla di Rambah, Rokan Hulu, dan Kuok, Kampar, menghadapi kendala geografis yang signifikan. Kedua lokasi ini berada di daerah perbukitan yang terjal dan tidak memiliki akses jalan memadai untuk kendaraan pemadam kebakaran.
Jim Gafur menyatakan bahwa kondisi tersebut membuat penggunaan helikopter waterbombing menjadi pilihan utama. "Lokasi karhutla berada di daerah perbukitan. Oleh karena itu, upaya pemadaman dimaksimalkan dengan menggunakan helikopter waterbombing," jelasnya.
Kondisi hutan yang lebat juga memerlukan upaya maksimal agar api tidak menyebar lebih luas. Cuaca panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir turut memperparah risiko penyebaran api di wilayah tersebut.
Advertisement
Pihak BPBD masih menunggu laporan mengenai luas area yang terbakar. Namun, dengan kondisi hutan yang padat dan berbukit, pemadaman melalui udara harus terus dioptimalkan.
Advertisement
Ancaman Cuaca Panas dan Sebaran Hotspot
Selain medan yang sulit, faktor cuaca juga menjadi perhatian serius dalam penanganan karhutla di Riau. Suhu udara yang tinggi dan minimnya curah hujan meningkatkan potensi kemunculan titik api baru.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi lima titik panas (hotspot) di Riau pada Selasa (28/10). Dua hotspot terdeteksi di Kampar, serta masing-masing satu di Rokan Hulu, Kuantan Singingi, dan Indragiri Hilir.
Secara keseluruhan di Pulau Sumatra, BMKG mencatat adanya 144 hotspot pada tanggal yang sama. Angka tertinggi berada di Sumatra Utara dengan 42 hotspot, diikuti Sumatra Selatan (36), Aceh (24), dan Sumatra Barat (19).
Advertisement
Data ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih menjadi isu krusial di wilayah Sumatra. Kesiapsiagaan dan respons cepat sangat diperlukan untuk mencegah bencana yang lebih besar.
Advertisement
Upaya Lanjutan dan Kesiapsiagaan Tim Darat
Meskipun helikopter waterbombing telah berhasil memadamkan api, upaya penanganan karhutla tidak berhenti sampai di situ. Di lokasi Bayas, Indragiri Hilir, kebakaran dilaporkan telah terjadi selama tiga hari.
Selain dukungan dari udara, tim darat juga dikerahkan ke lokasi tersebut untuk melakukan pemadaman secara langsung. Mereka bertugas memastikan api benar-benar padam dan tidak ada potensi bara yang kembali menyala.
"Saat ini, karhutla sudah berhasil dipadamkan. Namun, tim darat tetap bersiaga di lokasi," ujar Jim Gafur. Kesiapsiagaan ini penting untuk mencegah kebakaran susulan atau kambuhnya api.
Advertisement
Koordinasi antara tim udara dan tim darat menjadi kunci keberhasilan dalam penanganan karhutla. Sinergi ini memastikan bahwa setiap titik api dapat diatasi dengan metode yang paling efektif sesuai kondisi lapangan.
Sumber: AntaraNews