Mengenang Kiprah Ki Anom Suroto, Maestro Dalang Wayang Kulit Purwa yang Pernah Tampil di Lima Benua

Kenali Ki Anom Suroto, maestro dalang wayang kulit purwa yang telah mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Mengenang Kiprah Ki Anom Suroto, Maestro Dalang Wayang Kulit Purwa yang Pernah Tampil di Lima Benua
Ki Anom Suroto Tutup Usia (merdeka.com)

Kabar duka datang dari seni pewayangan tanah air. Dalang kondang wayang kulit asal Kota Solo Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro atau Ki Anom Suroto meninggal dunia, Kamis (23/10).

Kabar tersebut dibenarkan Jatmiko, salah satu putra Anom Suroto yang juga seorang dalang wayang kulit, saat dihubungi merdeka.com melalui sambungan telepon.

Jatmiko mengatakan, Ki Anom Suroto meninggal setelah mendapatkan perawatan di RS Dr Oen Kandangsapi sejak 4 hari lalu. Menurutnya, ayah dalang muda Bayu Aji Pemungkas itu menderita penyakit jantung.

"Sudah 4 hari ini di Kandangsapi. Sakitnya jantung," ujar Jatmiko.

Jenazah Ki Anom akan dimakamkan di pemakaman keluarga, Depokan, Kecamatan Juwiring, Klaten, Jawa Tengah pada Kamis (23/10) sore. Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka Kebon Seni Timasan, Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo.

"Pemakaman hari ini jam tiga di Juwiring, Klaten jam tiga sore," ujar Jatmiko Anom Saputro, putra keenam Anom Suroto, saat ditemui merdeka.com di rumah duka.

Sementara itu hingga pukul 09.21 WIB suasana rumah duka masih sepi. Terlihat beberapa kerabat dan pekerja sedang melakukan persiapan upacara pemakaman. Jenazah ki Anom Suroto masih dalam perjalanan dari RS dr Oen Kadangsapi Solo.

Suasana rumah duka di Kebon Seni Timasan
Suasana rumah duka di Kebon Seni Timasan merdeka.com

Ki Anom Suroto adalah seorang maestro dalang wayang kulit purwa yang lahir di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah pada 11 Agustus 1948. Beliau dikenal luas di Indonesia dan mancanegara berkat prestasi dan gaya mendalangnya yang unik. Sejak kecil, Ki Anom Suroto telah menunjukkan bakat luar biasa dalam seni pertunjukan tradisional ini.

Ki Anom Suroto merupakan generasi ke-6 dari keluarga dalang, di mana bakat mendalangnya diwarisi dari sang ayah, Ki Suroto. Pendidikan dan pengalaman yang diperolehnya sejak usia dini membentuknya menjadi salah satu dalang terkemuka di Indonesia. Ia mulai belajar mendalang pada usia 12 tahun dan menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta.

Pada usia 17 tahun, Ki Anom Suroto sudah mulai mendalang secara profesional, menunjukkan dedikasi dan komitmennya terhadap seni wayang kulit. Gaya mendalangnya yang khas, memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern, membuat pertunjukannya selalu dinanti-nanti oleh penonton.

Ki Anom Suroto meninggalkan seorang istri Rita Diana S dan 8 orang anak. Yakni, Retno Widowati, Shintowati Dwi, Triwati Rossana, Galuh Setyowati, Damar Sasongko, MPP Bayu Aji Jatmiko dan Maya Damayati.

Gaya Mendalang yang Khas

Ki Anom Suroto dikenal dengan gaya mendalang yang unik, yaitu memadukan unsur tradisional dengan elemen modern. Hal ini membuat pertunjukannya tidak hanya menarik bagi penonton yang menyukai tradisi, tetapi juga bagi generasi muda yang lebih menyukai inovasi.

Suara merdu dan kemampuan mengolah sabetan (gerakan wayang) yang lincah menjadi ciri khas Ki Anom Suroto. Ia mampu menghidupkan karakter-karakter wayang dengan sangat baik, sehingga penonton merasa terhubung dengan cerita yang disampaikan.

Ki Anom Suroto Tutup Usia
Ki Anom Suroto Tutup Usia merdeka.com

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Ki Anom Suroto lahir di lingkungan yang kaya akan tradisi seni. Keluarganya telah lama terlibat dalam dunia dalang, sehingga tidak mengherankan jika ia mewarisi bakat tersebut. Ia merupakan generasi ke-6 dari keluarga dalang, yang menunjukkan betapa kuatnya tradisi ini dalam keluarganya.

Sejak kecil, Ki Anom Suroto telah terpapar dengan seni pertunjukan, yang membentuk karakternya sebagai seorang seniman. Pendidikan formalnya di SMKI Surakarta memberikan landasan yang kuat dalam seni karawitan dan mendalang, yang sangat membantunya dalam mengembangkan gaya dan tekniknya sendiri.

Prestasi dan Pengakuan Internasional

Ki Anom Suroto telah tampil di berbagai negara di lima benua, termasuk Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Australia. Prestasi ini menunjukkan bahwa seni wayang kulit purwa dapat diterima dan diapresiasi di berbagai belahan dunia.

Ia juga pernah diundang untuk mendalang di Istana Negara dan berbagai acara penting lainnya, yang menjadi bukti pengakuan atas kemampuannya. Pada tahun 1995, Ki Anom Suroto menerima penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya dalam melestarikan seni budaya Indonesia.

Rekomendasi