Mengenang Ki Anom Suroto: Maestro Dalang yang Juga Pendakwah Ulung, Dedikasikan Hidup untuk Seni

Ki Anom Suroto, maestro dalang legendaris, meninggal dunia di usia 77 tahun. Simak warisan ilmu dan dedikasinya yang tak lekang oleh waktu.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mengenang Ki Anom Suroto: Maestro Dalang yang Juga Pendakwah Ulung, Dedikasikan Hidup untuk Seni
Kementerian Kebudayaan mengenang Ki Anom Suroto sebagai maestro dalang yang tak hanya piawai, namun juga dermawan berbagi ilmu dan seorang pendakwah ulung. (AntaraNews)

Ki Anom Suroto, dalang kawakan asal Sukoharjo, Jawa Tengah, telah berpulang. Ia meninggal dunia pada Kamis pukul 07.00 WIB di usia 77 tahun. Maestro pewayangan ini menghembuskan napas terakhirnya setelah sempat dirawat intensif di rumah sakit.

Putra almarhum, Jatmiko, mengungkapkan bahwa sang ayah telah menjalani perawatan selama lima hari terakhir. Ki Anom Suroto dirawat di Rumah Sakit dr. Oen Kandang Sapi karena mengalami serangan jantung. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni dan kebudayaan nasional.

Kementerian Kebudayaan melalui Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, turut menyampaikan belasungkawa. Restu Gunawan mengenang Ki Anom sebagai sosok yang dermawan dalam berbagi ilmu. Beliau juga dikenal sebagai pendakwah ulung yang mendedikasikan hidupnya untuk seni dan pelestarian budaya.

Warisan Ilmu dan Dedikasi Ki Anom Suroto

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menyoroti kemurahan hati Ki Anom Suroto. Beliau dikenal sangat dermawan dalam membagi ilmu pewayangan kepada para seniman dalang muda. "Dalam bidang ilmu, beliau sangat dermawan membagi ilmu kepada junior-juniornya," ujar Restu kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

Selain kepiawaiannya sebagai dalang, Ki Anom Suroto juga diakui sebagai pendakwah ulung yang memiliki pesan moral kuat. Restu Gunawan menyebutkan bahwa karya-karya beliau kerap bernuansa agamis. Salah satu lagu ciptaannya, "Pepiling", sangat kental dengan nuansa Islam dan pesan-pesan kebaikan.

Sosok maestro bernama lengkap Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro ini menunjukkan dedikasi luar biasa. Ia mendedikasikan seluruh hidupnya bagi kemajuan seni dalam negeri, khususnya seni pewayangan. Pengabdiannya terbukti hingga akhir hayatnya, seperti saat hadir di perayaan Hari Kebudayaan.

Pengabdian Tanpa Henti dan Pesan Kerukunan

Dedikasi Ki Anom Suroto tidak diragukan lagi, bahkan menjelang akhir hayatnya. Belum lama ini, pada 17 Oktober, ia masih menyempatkan diri untuk mementaskan wayang kulit. Pementasan tersebut berlangsung dalam perayaan Hari Kebudayaan di Yogyakarta, sebelum ia dikabarkan sakit. "Pengabdiannya sepanjang hidupnya adalah untuk seni," pungkas Restu, menggambarkan totalitas Ki Anom.

Sebelum meninggal dunia, Ki Anom Suroto sempat memberikan pesan penting kepada anak-anaknya. Jatmiko mengungkapkan bahwa sang ayah berpesan agar selalu menjaga kerukunan keluarga. "Kemarin sempat berkomunikasi, kami anak-anaknya diminta melanjutkan perjalanan bapak. Harus rukun, nggak boleh ada yang berkelahi," kata Jatmiko, mengutip pesan terakhir ayahnya.

Selain itu, sang maestro juga dikenal gencar menyerukan pelestarian seni pewayangan. Ia menekankan pentingnya peran berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, dalam menjaga warisan budaya ini. Ki Ageng Anom Suroto Lebdo Nagoro meninggalkan warisan tak ternilai bagi kebudayaan Indonesia, sebuah warisan yang patut terus dijaga.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi