Di tengah deretan rumah kokoh di Kavling Arafat RT 6/12, Cilangkap, Tapos, Depok, terselip satu bangunan yang nyaris roboh. Atap rumah tersebut tampak rapuh dan membahayakan, namun hingga kini belum mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat.
Rumah milik Abdul Firman berada dalam kondisi yang memprihatinkan jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Tim Liputan6.com berkunjung untuk melihat langsung kondisi rumah Firman.
“Ya, banyak yang datang mengira rumah kami tidak rusak, karena posisinya ada di belakang, sedangkan orang hanya melihat rumah yang ada di depan rumah saya,” ungkap Firman saat menerima tamu dari Liputan6.com pada Senin (13/10). Ia mengundang untuk duduk dan mulai menceritakan tentang rumah yang dibelinya beberapa tahun lalu. Sekitar 15 tahun yang lalu, rumah Firman mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan pada atapnya secara perlahan.
“Kerusakan karena hujan rapuh kan, udah gitu dari hewan liar kayak kucing piaran juga banyak lewat (atap), loncat ke asbes,” jelas Firman.
Berbagai faktor, baik dari alam maupun hewan liar, menjadi penyebab utama kerusakan pada atap rumahnya. Selain itu, kebocoran air hujan juga mengakibatkan kayu penyangga atap menjadi rapuh.
“Awalnya rumah ini kan saya beli berupa paviliun, lalu saya kumpulkan uang untuk bagian depan, sehingga menjadi rumah seperti sekarang,” tambahnya.
Firman masih ingat betul, rumah yang ia tempati bersama istri dan empat anaknya mulai mengalami kerusakan parah pada tahun 2020. Satu per satu bagian atapnya mengalami kerusakan dan kebocoran.
Bahkan, ketika hujan, Firman harus cepat-cepat pulang untuk menyelamatkan barang-barang dari air hujan, karena rumahnya sering bocor saat hujan, baik ringan maupun lebat.
“Kalau hujan saya langsung pulang karena teringat rumah yang kerap bocor karena atap rumah bagian atas sudah rusak,” kata pria yang bekerja sebagai juru parkir di sebuah minimarket.
Advertisement
Tabungan tidak mencukupi
Firman telah berusaha menyisihkan sebagian dari penghasilannya sebagai juru parkir. Namun, dengan kebutuhan yang cukup besar, harapannya untuk memperbaiki rumah harus terpaksa dikalahkan oleh tuntutan hidup yang semakin berat di zaman modern ini.
"Saya sudah coba menyisihkan uang untuk memperbaiki rumah, namun anak butuh sekolah dan makan, jadi uang itu digunakan untuk makan dan sangu anak sekolah," ungkap Firman.
Dari raut wajah Firman yang sudah tidak muda lagi, terlihat bahwa ia menyimpan harapan untuk membahagiakan keluarganya. Namun, kerasnya kehidupan membuatnya hanya bisa pasrah dan berjuang agar keluarga tetap tinggal di rumah dengan atap yang rusak.
“Kalau hujan, pernah banjir setinggi 10 sentimeter, saya harus buangin air yang menggenangi rumah bersama anak saya yang pria,” tutur Firman.
Ketika hujan turun pada malam hari, Firman dan anak pertamanya harus bekerja sama membuang air yang menetes dari atap hingga menggenangi lantai.
"Anak saya yang kecil saya suruh tidur, tiga anak saya lainnya bantuin buangin air pada basah-basahan, lalu istri dan anak saya yang perempuan saya suruh istirahat kasian pasti capek," kata Firman.
Melihat ke sekeliling, rumah Firman sangat jauh dari kata layak. Terdapat dua ruangan yang bisa dijadikan kamar dan dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi.
Kondisi kamar sudah sangat tidak layak, atapnya hancur, dan temboknya dipenuhi bercak akibat rembesan air. Dapur dan kamar mandi pun tidak jauh berbeda, keduanya sudah tidak layak digunakan.
"Kamar kalau dipakai untuk tidur, khawatir saat hujan malam hari, tiba-tiba ambruk saat hujan, jadi pada kumpul di bagian depan rumah," kata Firman sambil menunjukkan barang-barang yang menumpuk.
Firman mengaku telah mengajukan permohonan bantuan untuk perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) kepada Pemerintah Kota Depok. Pengajuan tersebut sudah dilakukan untuk tahun 2024 hingga 2025, tetapi bantuan yang diharapkan belum juga diterima.
"Katanya 2024 dan 2025 sudah tutup, ada lagi 2026 itu pasti lama lagi sedangkan kondisi rumah saya sudah seperti ini," ujar Firman sambil merapikan pakaian yang menumpuk.
Ia hanya bisa pasrah dan mengandalkan dukungan dari anak dan istri sebagai kekuatan untuk bertahan di rumah yang mengalami kerusakan hingga 80 persen.
"Kekuatannya hanya doa dan puasa yang dijalani anak dan istri saya, itu kekuatan saya sekarang," terang Firman.
Beberapa hari lalu, kondisi rumahnya sempat diperhatikan oleh Lurah Cilangkap, Galih Catur Prasatya. Lurah dan Camat setempat berjanji akan melaporkan kondisi rumah Firman kepada dinas terkait untuk segera dilakukan perbaikan.
"Semoga saja Pemerintah Kota Depok dapat membantu warganya yang perlu mendapatkan bantuan, salah satunya seperti saya," harap Firman.
Dalam situasi yang sulit ini, Firman tetap optimis dan berharap ada perubahan yang bisa memperbaiki kehidupannya dan keluarganya.
Advertisement
Lurah Cilangkap
Liputan6.com berusaha menemui Lurah Cilangkap, Galih Catur Prasatya, di kantornya yang terletak beberapa ratus meter dari kediaman Firman.
Galih mengungkapkan bahwa ia telah melaporkan kondisi rumah Firman langsung kepada Wali Kota Depok, Supian Suri. Ia bahkan menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah Firman guna melihat dan mendokumentasikan keadaan rumah tersebut setelah mendapat laporan dari Karang Taruna Cilangkap.
"Sudah saya laporkan, ya memang kondisinya sudah mengkhawatirkan untuk ditinggali," ujar Galih, yang telah menjabat sebagai Lurah Cilangkap selama beberapa bulan. Ia menilai bahwa rumah Firman layak menerima bantuan perbaikan dari Pemerintah Kota Depok.
Namun, Galih masih belum mengetahui secara pasti dari mana sumber dana untuk bantuan perbaikan rumah tersebut berasal.
"Untuk sumber dana kami belum mengetahui jelas, namun saya selaku Lurah sudah melakukan koordinasi dan memberikan laporan kepada Camat dan Wali Kota Depok. Alhamdulillah sudah ada respon (Wali Kota Depok)," ujar Galih.
Dengan demikian, diharapkan perhatian dari pemerintah dapat segera membantu perbaikan rumah Firman agar kondisi tempat tinggalnya menjadi lebih layak dan aman untuk dihuni.