Aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada periode 23-30 September 2025 didominasi oleh gempa vulkanik dangkal. Badan Geologi melaporkan adanya 101 kali kejadian gempa jenis ini dalam kurun waktu satu minggu tersebut. Data ini menunjukkan dinamika vulkanik yang signifikan pada gunung api tersebut.
Dominasi gempa vulkanik dangkal ini menjadi perhatian serius mengingat status Gunung Lokon yang telah ditingkatkan menjadi Siaga (Level III) sejak awal September. Peningkatan status ini mendorong pemantauan ketat terhadap setiap perubahan aktivitas vulkanik. Rekaman kegempaan menjadi indikator penting dalam menilai potensi ancaman yang mungkin timbul.
Meskipun secara visual kondisi kawah kadang tertutup kabut, pengamatan menunjukkan adanya asap putih tipis dan titik api di dasar kawah pada malam hari. Kondisi ini memicu pertanyaan mengenai stabilitas gunung dan langkah-langkah mitigasi yang perlu diambil. Masyarakat di sekitar lereng diminta untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari otoritas terkait.
Advertisement
Advertisement
Dominasi Gempa Vulkanik Dangkal Menandai Aktivitas Gunung Lokon
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid AN menjelaskan bahwa selama periode 23-30 September 2025, aktivitas Gunung Lokon tercatat dengan berbagai jenis gempa. Terekam sebanyak 17 kali gempa embusan, 101 kali gempa vulkanik dangkal (VB), sembilan kali gempa vulkanik dalam, dan 30 kali gempa tektonik jauh. Data ini menunjukkan bahwa gempa vulkanik dangkal menjadi jenis gempa yang paling sering terjadi.
Secara visual, gunung api tersebut kadang tertutup kabut, namun saat cuaca cerah teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis. Asap ini mencapai tinggi sekitar 30 meter di atas puncak, tanpa adanya kondisi vulkanik lain yang mencolok. Menariknya, pada malam hari teramati adanya titik api di dasar kawah, mengindikasikan aktivitas di dalam perut gunung. Meskipun dominan, jumlah gempa vulkanik dangkal ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan awal September, di mana pada 2 September 2025 terekam 143 kejadian per hari.
Penurunan jumlah gempa vulkanik dangkal ini, meskipun masih dominan, perlu dianalisis lebih lanjut oleh para ahli. Fluktuasi dalam jumlah kegempaan adalah hal yang biasa terjadi pada gunung api aktif. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat sifat gunung api yang dapat berubah sewaktu-waktu. Badan Geologi terus memantau setiap perkembangan untuk memastikan keamanan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Potensi Bahaya dan Peningkatan Status Siaga Gunung Lokon
Badan Geologi mengidentifikasi beberapa potensi ancaman bahaya dari aktivitas Gunung Lokon saat ini. Salah satunya adalah kemungkinan terjadinya gas beracun yang sewaktu-waktu dapat keluar dari kawah tanpa peringatan. Selain itu, erupsi freatik, yaitu erupsi yang diakibatkan kontak uap panas magma dengan air hidrotermal, juga menjadi ancaman yang dapat terjadi secara tiba-tiba. Kedua potensi bahaya ini memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat sekitar.
Masyarakat yang tinggal di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon diimbau untuk mewaspadai terjadinya lahar. Ancaman lahar ini sangat mungkin terjadi pada musim penghujan atau saat terjadi hujan deras dengan durasi lama di puncak gunung. Untuk mengantisipasi potensi bahaya tersebut, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah meningkatkan status Gunung Lokon. Status gunung api ini berubah dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) sejak pukul 12:00 WITA pada Rabu, 3 September.
Peningkatan status menjadi Siaga (Level III) menunjukkan bahwa ada peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan dan memerlukan kesiapsiagaan lebih tinggi. Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area berbahaya yang telah ditetapkan dan selalu mengikuti informasi serta arahan dari pemerintah daerah dan Badan Geologi. Koordinasi antarpihak terkait terus dilakukan untuk memastikan mitigasi bencana berjalan efektif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews