Insiden keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Jember, Jawa Timur, memicu keprihatinan publik. Menanggapi hal ini, Dr. Nurhayati, seorang ahli pangan dari Universitas Jember (Unej), memberikan serangkaian tips krusial untuk meminimalisir risiko tersebut. Langkah-langkah pencegahan ini diharapkan dapat menjaga kualitas dan keamanan pangan yang disalurkan kepada masyarakat.
Dr. Nurhayati menekankan bahwa kunci utama untuk mengurangi potensi keracunan pangan siap saji terletak pada penerapan higiene yang ketat dan pengelolaan suhu makanan yang tepat. Ia juga menyarankan perubahan sistem penyaluran MBG agar lebih terintegrasi dengan fasilitas sekolah. Saran ini muncul setelah belasan siswa SD di Jember diduga keracunan usai menyantap menu program tersebut pada akhir September lalu.
Pentingnya edukasi bagi penerima manfaat juga menjadi sorotan utama dalam upaya pencegahan keracunan makanan ini. Dengan memahami praktik kebersihan dasar, seperti mencuci tangan sebelum makan, risiko kontaminasi dapat ditekan secara signifikan. Tips-tips yang diberikan Dr. Nurhayati mencakup aspek dari persiapan hingga konsumsi, bertujuan menciptakan lingkungan makan yang lebih aman dan sehat bagi semua.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Higiene dan Suhu Penyajian Makanan
Salah satu fondasi utama dalam mencegah keracunan makanan adalah memastikan higiene yang optimal dari berbagai aspek. Dr. Nurhayati menegaskan, "Cara mengurangi risiko keracunan pangan siap saji yaitu dengan cara memastikan higiene baik bahan, alat, maupun petugas yang memasak." Kebersihan bahan baku, peralatan masak, serta kebersihan pribadi juru masak menjadi faktor penentu kualitas dan keamanan makanan yang disajikan.
Selain higiene, pengaturan suhu penyajian makanan juga memegang peranan vital. Makanan panas harus dijaga suhunya di atas 60 derajat Celcius, sementara makanan dingin perlu dipertahankan di bawah 5 derajat Celcius. Kontrol suhu yang tepat ini sangat penting untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab keracunan, seperti Escherichia coli atau Salmonella sp.
Penggunaan wadah tertutup atau food cover juga disarankan untuk melindungi makanan dari kontaminasi udara dan serangga. "Kemudian menggunakan wadah tertutup atau food cover untuk mencegah kontaminasi udara atau serangga, serta menyediakan alat saji terpisah di tiap menu untuk menghindari tangan langsung menyentuh," ucap Ketua Kelompok Riset Pangan ASUH Unej itu. Langkah ini meminimalisir kontak langsung yang bisa menjadi sumber penularan mikroba.
Advertisement
Advertisement
Strategi Penyiapan dan Edukasi Penerima Manfaat
Juru masak memiliki peran penting dalam mengelola porsi makanan agar tidak semua hidangan langsung diletakkan di area penyajian. Strategi refill sesuai kebutuhan dapat membantu menjaga kesegaran dan keamanan makanan. Hal ini mengurangi waktu makanan terpapar lingkungan luar, yang berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi.
Edukasi kebiasaan sehat bagi para penerima manfaat program MBG juga tidak kalah penting. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan sebelum makan bersama dapat menjadi benteng pertama pencegahan keracunan. "Beberapa hal yang bisa menjadi sumber terjadinya keracunan yang perlu diwaspadai yakni bahan-alat yang tidak dicuci bersih dan dijaga higienitasnya dapat menyebabkan risiko kontaminasi bakteri atau sumber penularan mikroba seperti Escherichia coli penyebab diare atau Salmonella sp penyebab tipus," jelas Nurhayati.
Kontaminasi dapat terjadi melalui berbagai jalur, termasuk bahan dan alat yang tidak dicuci bersih. Bakteri seperti Escherichia coli dapat menyebabkan diare, sementara Salmonella sp dikenal sebagai penyebab penyakit tipus. Oleh karena itu, pemahaman tentang sumber-sumber keracunan ini sangat krusial untuk diterapkan dalam setiap tahapan program MBG.
Advertisement
Advertisement
Solusi Jangka Panjang untuk Program MBG
Untuk mencegah terulangnya kasus keracunan, Dr. Nurhayati menyarankan untuk memperpendek waktu antara penyiapan makanan hingga dikonsumsi oleh anak-anak. Waktu tunggu yang terlalu lama dapat memberi kesempatan bakteri untuk berkembang biak. Oleh karena itu, solusi struktural perlu dipertimbangkan untuk program MBG.
Salah satu solusi yang diusulkan adalah menyerahkan tanggung jawab penyiapan MBG kepada kantin sekolah masing-masing atau wali murid. "Menurut saya sebaiknya pihak kantin sekolah yang menyiapkan MBG di masing-masing sekolah atau diserahkan kepada masing-masing wali murid untuk membuat bekal anaknya. Makanan bergizi itu tidak harus mahal," ucap Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) itu. Pendekatan ini dapat memastikan makanan disiapkan lebih dekat dengan waktu konsumsi dan disesuaikan dengan standar kebersihan lokal.
Usulan ini didasari oleh insiden yang terjadi sebelumnya, di mana belasan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Sidomekar di Kabupaten Jember diduga keracunan setelah menyantap menu program MBG di sekolah pada Jumat (26/9). Dengan melibatkan kantin sekolah atau wali murid, pengawasan terhadap proses penyiapan makanan dapat lebih optimal, sehingga risiko keracunan dapat diminimalisir secara signifikan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews