Waspada! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di 32 Wilayah Jawa Timur Hingga Akhir Oktober 2025

BMKG Juanda mengingatkan masyarakat Jawa Timur untuk waspada potensi cuaca ekstrem di 32 wilayah hingga akhir Oktober 2025, berisiko bencana hidrometeorologi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Waspada! BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem di 32 Wilayah Jawa Timur Hingga Akhir Oktober 2025
BMKG Juanda mengingatkan masyarakat Jawa Timur untuk waspada potensi cuaca ekstrem di 32 wilayah hingga akhir Oktober 2025, berisiko bencana hidrometeorologi. (AntaraNews)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo mengeluarkan peringatan dini. Peringatan ini ditujukan kepada masyarakat di wilayah Jawa Timur terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan terjadi pada periode 20-29 Oktober 2025. Kondisi ini dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menekankan pentingnya kewaspadaan. "BMKG Juanda mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Jawa Timur yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi," kata Taufiq Hermawan dalam keterangannya di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Selasa lalu. Potensi bencana ini mencakup banjir, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, serta hujan es.

Ancaman cuaca ekstrem ini tidak main-main, sebab berlaku untuk 32 wilayah kota dan kabupaten di Jawa Timur. Fenomena ini diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober 2025. Masyarakat diminta untuk terus memantau informasi terkini dari BMKG guna mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.

Penyebab dan Dampak Potensi Cuaca Ekstrem

BMKG Juanda menjelaskan bahwa potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur ini merupakan dampak dari peralihan musim. Fenomena ini dipicu oleh beberapa gangguan gelombang atmosfer yang melintasi wilayah Jawa Timur. Gangguan tersebut meliputi Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, dan juga gelombang Kelvin.

Selain faktor gelombang atmosfer, suhu muka laut di sekitar Selat Madura juga berperan penting. Suhu yang masih cukup hangat mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif. Awan-awan ini berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi yang tidak stabil dan rawan bencana.

Masa pancaroba atau peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan sedang berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa Timur. Kondisi ini seringkali ditandai dengan perubahan cuaca yang mendadak dan ekstrem. Oleh karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan bencana hidrometeorologi yang telah disebutkan.

Daftar Wilayah Terdampak dan Imbauan BMKG

BMKG Juanda telah merinci wilayah-wilayah yang berpotensi tinggi mengalami cuaca ekstrem. Terdapat 32 wilayah kota dan kabupaten yang harus meningkatkan kewaspadaan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:

  • Kabupaten: Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bojonegoro, Bondowoso, Gresik, Jember, Jombang, Kediri, Lamongan, Lumajang, Madiun, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tuban, Tulungagung, Magetan, Ngawi, Pacitan, Ponorogo.
  • Kota: Kediri, Madiun, Probolinggo, Surabaya.

Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diimbau untuk mengambil langkah-langkah pencegahan. Langkah ini termasuk membersihkan saluran air dan memastikan lingkungan sekitar aman dari potensi longsor atau genangan air. Kewaspadaan dini dapat mengurangi risiko dampak bencana.

Taufiq Hermawan juga menegaskan pentingnya akses informasi yang akurat dan terkini. "Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca melalui situs daring kami maupun melalui media sosial BMKG Juanda," ujarnya. Pemantauan rutin ini akan membantu masyarakat dalam merencanakan aktivitas dan mengambil keputusan yang tepat demi keselamatan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi