Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, Bali, terus bergerak cepat membersihkan sisa material dampak banjir yang melanda sejumlah titik wilayahnya. Upaya pembersihan ini memasuki hari keempat setelah bencana alam tersebut, dengan fokus utama pada area yang paling parah terdampak.
Koordinasi intensif dilakukan antara Pemkot Denpasar dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memastikan proses pembersihan berjalan efektif. Langkah ini diambil untuk mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula dan mengurangi risiko kesehatan bagi warga.
Bencana banjir besar yang terjadi pada Rabu (10/9) telah meninggalkan tumpukan material dan sampah, terutama di Jalan Siulan, Tohpati, Denpasar. Pembersihan ini juga sejalan dengan masa tanggap darurat yang telah ditetapkan oleh Provinsi Bali.
Advertisement
Advertisement
Upaya Pembersihan dan Tantangan di Lapangan
Petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Denpasar telah dikerahkan untuk mengangkut berbagai jenis material sisa banjir. Material tersebut meliputi kasur, kain, alat rumah tangga, hingga sampah lainnya yang menumpuk di pinggir jalan atau di depan rumah warga terdampak.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup secara bertahap melakukan pembersihan," terang Perbekel Kesiman Kertalangu I Made Suena di Denpasar, Bali, Sabtu. Ia menambahkan bahwa pembersihan dilakukan secara bertahap mengingat saat ini fokus utama adalah penanganan para pengungsi.
Untuk menampung sampah berukuran besar, sebanyak dua truk sampah dikerahkan ke lokasi. Meskipun demikian, tantangan masih ada, seperti dua mobil yang hanyut dan masih teronggok di pinggir Jalan Siulan hingga hari keempat pasca-banjir.
Advertisement
Pemilik mobil tersebut diketahui sedang sakit setelah terdampak banjir, sehingga evakuasi kendaraan belum dapat dilakukan. Kondisi ini menunjukkan kompleksitas penanganan pasca-bencana yang membutuhkan perhatian menyeluruh.
Advertisement
Kondisi Pengungsian dan Bantuan yang Terus Mengalir
Selain pembersihan, penanganan pengungsi menjadi prioritas utama Pemkot Denpasar. Hingga Jumat (12/9), jumlah pengungsi yang masih menghuni posko pengungsian di Balai Banjar Tohpati, Denpasar, tercatat sekitar 28 Kepala Keluarga (KK).
Bantuan kemanusiaan terus berdatangan di posko-posko pengungsian hingga Sabtu ini, memberikan manfaat besar bagi warga terdampak. Solidaritas masyarakat dan berbagai pihak sangat vital dalam meringankan beban para korban banjir.
Berdasarkan data sementara dari BPBD Bali per Jumat (12/9), total posko pengungsian di Denpasar mencapai enam titik, menampung sebanyak 188 orang pengungsi. Posko-posko tersebut tersebar di beberapa lokasi strategis.
Advertisement
- SD 25 Pemecutan: 8 orang
- Banjar Sedana Mertha Ubung: 24 orang
- Banjar Dakdakan Peguyangan: 48 orang
- Banjar Kesambi Kesiman: 43 orang
- Posko Pulau Misol: 45 orang
- Banjar Tohpati: 20 KK
Advertisement
Masa Tanggap Darurat dan Prioritas Pemerintah
Provinsi Bali telah menetapkan masa tanggap darurat pasca-bencana banjir selama satu minggu, dimulai sejak Rabu (10/9). Penetapan ini memungkinkan pemerintah untuk mengoptimalkan sumber daya dan upaya penanganan bencana.
Selama periode tanggap darurat ini, pemerintah fokus pada dua aspek krusial: evakuasi korban dan pemenuhan kebutuhan logistik bagi para pengungsi. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan warga yang terdampak.
Koordinasi antarlembaga terus diperkuat untuk mempercepat proses pemulihan dan mitigasi dampak bencana. Pemkot Denpasar berupaya keras agar warga terdampak dapat segera kembali ke aktivitas normal mereka dengan aman dan nyaman.
Advertisement
Sumber: AntaraNews