Pemerintah di tingkat daerah maupun pusat didesak untuk lebih aktif melibatkan peran peneliti dalam proses penyusunan kebijakan publik. Langkah ini dianggap krusial agar setiap program yang dijalankan dapat memiliki dampak yang signifikan dan menekan pemborosan anggaran negara.
Permintaan ini disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Alih Teknologi Universitas Bina Nusantara (BINUS) dalam acara The 7th International Conference on Biospheric Harmony (ICOBAR) dan Forum Ilmiah Diaspora Indonesia (FIDI) di Tangerang pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Tujuan utama dari pelibatan ilmuwan dan saintis dari berbagai multidisiplin ilmu adalah untuk memastikan kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan sasaran AstaCita, serta relevan dengan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks, terutama di era teknologi dan digital saat ini.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Kebijakan Berbasis Sains untuk Dampak Positif
Kebijakan yang disusun dengan landasan sains dan penelitian yang mendalam diyakini akan memberikan dampak yang signifikan dan positif bagi masyarakat luas. Pendekatan ini memungkinkan pemerintah untuk membuat keputusan yang lebih terinformasi dan berdasarkan bukti konkret, bukan sekadar asumsi.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan digital, masukan dari para peneliti menjadi sangat penting dalam merumuskan kebijakan yang relevan. Mereka dapat memberikan perspektif baru dan solusi inovatif yang sesuai dengan kebutuhan spesifik masing-masing daerah, menghindari program yang tidak efektif.
Wakil Rektor BINUS menekankan bahwa kebijakan yang didukung oleh penelitian mendalam akan secara otomatis berdampak positif dan efisien dalam penggunaan anggaran. Ini merupakan langkah strategis untuk menghindari pemborosan dan memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan pemerintah benar-benar menghasilkan manfaat.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Internasional dalam Menjawab Tantangan Global
Sebagai wujud komitmen terhadap pentingnya peran peneliti, BINUS University menggelar ICOBAR-FIDI Joint Scientific Forum selama dua hari, dari 23 hingga 24 Agustus 2025. Acara ini berhasil menghadirkan profesor dan presenter dari lebih dari 20 negara, termasuk institusi bergengsi seperti Harvard Medical School dan The University of Tokyo.
Forum ilmiah internasional ini berfungsi sebagai wadah strategis yang mempertemukan para peneliti, akademisi, praktisi industri, dan pengambil kebijakan, termasuk ilmuwan diaspora Indonesia dari berbagai belahan dunia. Tujuannya adalah untuk berdiskusi, berbagi hasil penelitian, dan membangun kolaborasi yang kuat.
Tema "Global Synergy for Biospheric Resilience" diangkat untuk menegaskan urgensi kerja sama lintas batas dalam mengatasi tantangan lingkungan yang kian kompleks. Isu-isu seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan krisis sumber daya alam memerlukan solusi kolaboratif yang berbasis ilmiah.
Advertisement
Hasil dari pertemuan ini diharapkan dapat dirangkum dan diserahkan kepada pemerintah sebagai bagian dari masukan kebijakan. Hal ini menunjukkan komitmen forum untuk tidak hanya berdiskusi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam perumusan solusi global.
Advertisement
Memperkuat Kontribusi Indonesia Melalui Ilmuwan Diaspora
Kegiatan ICOBAR-FIDI tahun ini bermitra dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4), sebuah organisasi yang memiliki visi menjembatani kolaborasi pengetahuan antara diaspora dan institusi dalam negeri. Kemitraan ini memperluas jangkauan kerja sama penelitian dan membuka ruang pertukaran ilmu lintas disiplin dan negara.
Ketua Umum I-4, Prof. Fatwa Firdaus Abdi, menyatakan bahwa kolaborasi antara I-4 dan BINUS University merupakan langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi ilmiah diaspora Indonesia dengan akademisi di dalam negeri. Ini menciptakan sinergi yang dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan nasional.
Melalui forum ini, BINUS University dan I-4 berharap dapat memperkuat kontribusi Indonesia terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pendekatan ilmiah yang kolaboratif dan berbasis solusi menjadi kunci dalam mewujudkan tujuan-tujuan pembangunan tersebut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews