Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespons kritik dilayangkan anggota DPR Atalia Praratya terkait kebijakan penambahan kuota 50 siswa per rombel. Menurut Dedi, masalah di singgung istri mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil itu karena sejumlah wilayah di bumi pasundan masih kekurangan sekolah.
"Gini aja, problem utamanya itu adalah kekurangan sekolah di Kota Bandung, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bogor," ucap Dedi di sela-sela acara rapat kerja dan konsultasi nasional Apindo, Bandung, Selasa (5/8).
Dedi menilai kurangnya bangunan sekolah dan ruang kelas di sejumlah wilayah di Jawa Barat, lantaran belanja pemerintah rovinsi selama ini lebih banyak dialokasikan ke urusan teknologi dan informasi.
"Nah kenapa kekurangan sekolah? Karena selama ini pemerintah provinsinya kurang membangun sekolah dan kurang membangun ruang kelas," kata Dedi.
Advertisement
Pembangunan Sekolah
Dedi mengklaim bahwa pembangunan ruang kelas baru banyak dilakukan di masa kepemimpinannya di tingkat SMA sebanyak 38 unit.
“Kan baru sekarang bangun ruang kelas yang banyak," ujar Dedi.
Dedi tak berkomentar banyak saat di singgung terkait minimnya pembangunan sekolah itu terjadi di masa pemerintahan gubernur sebelumnya yaitu Ridwan Kamil.
"Di sebelumnya ya pak (Ridwan Kamil)," tanya wartawan.
"Saya enggak tahu sebelumnya apa," jawab Dedi Mulyadi.
Beberapa waktu sebelumnya, anggota Komisi VIII DPR Atalia Praratya menyoroti kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menambah kuota rombongan belajar (Rombel) dari maksimal 36 siswa menjadi maksimal 50 siswa. Kebijakan itu dinilai Atalia tidak ideal buat guru dan murid.
"Saya menyaksikan ternyata 25 orang sekelas, itu sangat manusiawi. Paling banyak 36 sesuai aturan kementerian (Kemendikdasmen), itu sudah paling banyak," ujar Atalia di Kota Cimahi.