Cerita Anak Tukang Sol Sepatu Menenun Mimpi Ubah Nasib di Sekolah Rakyat

Bagi Rafi, ini bukan sekadar kesempatan. Ini adalah napas panjang setelah bertahun-tahun hidup dalam ruang sempit bernama keterbatasan.

Erwin Yohanes
Oleh Erwin Yohanes - Reporter
Cerita Anak Tukang Sol Sepatu Menenun Mimpi Ubah Nasib di Sekolah Rakyat
Rafi dan sang ayah (Merdeka.com/Erwin Yohanes)

Saat matahari enggan bersinar terlalu terang di pagi pertama itu, Muhammad Rafi (15) melangkah masuk ke gerbang Sekolah Rakyat (SR) di UPTD SKB Mojoagung, Jombang, Jawa Timur dengan langkah pasti dan hati yang membara.

Tak ada seragam baru mengilap, hanya semilir harapan dan doa yang dibisikkan ayahnya, Hosman (61), seorang tukang jahit sepatu di Pasar Tapen, Pagendingan, Jombang, yang sehari-hari bergelut dengan sol rusak dan lem yang mengering terlalu cepat.

Hosman bukan ayah yang banyak bicara. Dia lebih sering merunduk, menekuk sepatu lusuh yang bahkan pemiliknya sudah tak yakin bisa dipakai lagi.

Penghasilannya tak menentu, kadang cuma Rp30.000 sehari, kadang tak ada sama sekali. Tapi ketika mendengar ada sekolah gratis dari informasi kelurahan, wajahnya untuk pertama kalinya menunjukkan sesuatu yang tak biasa, optimisme.

"Ibunya Rafi dikasih tahu sama desa kalau ada sekolah gratis," kata Hosman membuka pembicaraan dengan merdeka.com, Senin (14/7) pagi.

"Sekolah Rakyat, katanya, bisa menginap. Tak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan seragam pun tak jadi syarat," tambahnya.

Bagi Rafi, ini bukan sekadar kesempatan. Ini adalah napas panjang setelah bertahun-tahun hidup dalam ruang sempit bernama keterbatasan.

Lulusan SMPN 1 Kudu ini sebetulnya sudah bersiap menerima kenyataan, mungkin pendidikan tinggi hanya mimpi. Tapi tawaran ibunya, yang mendengar kabar dari kelurahan, membuat semuanya berubah.

"Karena keadaan. Pengennya sekolah tinggi," ujar Rafi.

Rafi dan sang ayah
Rafi dan sang ayah Merdeka.com/Erwin Yohanes

Mimpi Ubah Ekonomi Keluarga

Kini, dia berdiri di tempat yang katanya bukan hanya sekolah, tapi wadah bagi mereka yang haus ilmu tapi tak punya cukup bekal. Di antara bangunan sederhana dan wajah-wajah baru, Rafi menyimpan ambisi besar.

“Saya pengen sekolah tinggi, kalau bisa sampai S2,” ucapnya lirih namun tegas.

“Biar bisa jadi pengusaha barang atau makanan, biar bisa ubah ekonomi keluarga saya,” tegasnya.

Tubuhnya mungkin tak mencerminkan cita-cita besarnya, meski dia gemar olahraga bodybuilding. Tapi semangatnya membuat siapa pun tertegun. Dia tahu pendidikan bukan jalan pintas, melainkan pendakian panjang, dan Sekolah Rakyat adalah awal dari perjalanan yang tak tahu di mana akan berakhir.

Sekolah ini bukan cuma ruang kelas. Dia adalah pelipur lara bagi banyak Hosman lain di luar sana—para orang tua yang tak mampu memberikan banyak, tapi punya cinta yang tak tergantikan.

Dia adalah tempat di mana anak-anak seperti Rafi menyulam masa depan, bukan dengan uang, tapi dengan ketekunan dan keberanian.

Janji Taklukkan Nasib Lewat Sekolah

Pada hari pertama itu, ada suara kecil yang bergema dalam hati Rafi, suara janji kepada diri sendiri, bahwa dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Pokoknya saya ingin sekolah tinggi dan merubah keadaan (ekonomi) keluarga," ungkapnya.

Dan jika kelak dia berhasil, siapa pun yang pernah meragukannya akan tahu, mimpi itu tak hanya milik mereka yang berpunya. Kadang, mimpi justru paling keras tumbuh dari lantai pasar, dari benang yang menjahit sepatu usang, dari tangan ayah yang tak pernah lelah.

Karena di Sekolah Rakyat, setiap anak adalah cerita. Dan Muhammad Rafi adalah permulaan tentang bagaimana harapan bisa mengalahkan kenyataan.

Rekomendasi