Analisis BMKG Penyebab Banjir di Mataram, Ratusan Jiwa Mengungsi dan Puluhan Mobil Terseret Arus

Banjir yang melanda Mataram merendam tiga kecamatan.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Analisis BMKG Penyebab Banjir di Mataram, Ratusan Jiwa Mengungsi dan Puluhan Mobil Terseret Arus
Analisis BMKG Penyebab Banjir di Mataram, Ratusan Jiwa Mengungsi dan Puluhan Mobil Terseret Arus (Merdeka.com)

Sejumlah kawasan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) dilanda musibah banjir akibat hujan deras yang terjadi sejak Minggu (6/7 siang hingga sore. Banjir yang melanda Mataram merendam tiga kecamatan yakni Kecamatan Sandubaya, Mataram, dan Cakranegara serta enam desa/kelurahan (Swete, Bertais, Kekalik Gerisak, Pagutan Permai, Majeluk, dan Gomong).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Ahmadi mengatakan curah hujan yang tinggi membuat debit air sungai meningkat, sehingga meluap dan menggenangi permukiman warga. Hujan deras tersebut menyebabkan tembok keliling tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Sandubaya roboh ke arah jalan raya, pohon tumbang, dan satu unit mobil terseret banjir.

Masyarakat diimbau agar berhati-hati ketika di luar rumah serta diharapkan tidak membuang sampah pada saluran air dan membersihkan drainase untuk mengantisipasi terjadinya luapan air saat hujan terjadi.

"Masyarakat juga perlu mewaspadai adanya potensi terjadi hujan dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba," kata Ahmadi, Minggu (6/7), sebagaimana diberitakan Antara.

Volume Air Hujan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan ada sekitar 4,2 miliar liter air hujan tumpah dalam waktu singkat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo memaparkan volume curah hujan yang tercatat melalui data Agroclimate/ Automatic Weather Stasiun (AAWS/ AWS) dan Automatic Rain Gauge (ARG) adalah AWS Sigerongan sebanyak 111,4 milimeter, AAWS Stasiun Klimatologi NTB sebanyak 74,0 milimeter, dan ARG Mataram sebanyak 71,4 milimeter.

Menurutnya, kriteria volume itu masuk ke dalam kategori hujan lebat dalam skala harian (sampai dengan 100 milimeter per hari) dan hujan ekstrem dalam skala jam (lebih dari 50 milimeter per jam).

"Diperkirakan volume air yang tumpah di Kota Mataram sebesar 4,2 miliar liter air pada rentang waktu kurang dari enam jam," kata Nuga di Mataram, Minggu (6/7).

banjir di mataram
banjir di mataram Antaranews.com

Analisis BMKG

BMKG mengungkapkan ada empat faktor pemicu hujan intensitas sedang hingga lebat yang menyebabkan banjir di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Fenomena hujan terjadi akibat aktifnya gelombang atmosfer frekuensi rendah dan kelembaban udara cenderung basah dari lapisan 850 milibar (mb) hingga 700 mb dengan nilai 70-90 persen.

"Faktor lainnya akibat labilitas atmosfer kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal dan nilai reflektifitas lebih dari 30 dBZ (desibel reflektifitas) di wilayah Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat," kata Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok, Satria Topan Primadi dalam pernyataan di Mataram, Senin (7/7).

Ketika gelombang atmosfer aktif, maka hal itu berkaitan dengan potensi peningkatan pembentukan awan hujan di suatu wilayah. Di sisi lain, kelembaban udara hingga kondisi ketidakstabilan atmosfer turut mempercepat pembentukan awan yang bisa menyebabkan cuaca buruk.

Satria menuturkan sebagian wilayah di Nusa Tenggara Barat masih berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang yang dapat disertai angin kencang pada 7 Juli sampai 9 Juli 2025 mendatang.

Pada 7 Juli, daerah yang berpotensi diguyur hujan adalah Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Utara, Sumbawa Barat, Dompu, dan Bima.

Pada 8 Juli, hujan diprakirakan turun di Lombok Timur, Lombok Tengah, Sumbawa, dan Kabupaten Bima.

Pada 9 Juli, daerah yang diprediksi mengalami hujan terletak di Lombok Timur, Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, dan Dompu.

Selain hujan, gelombang laut tinggi juga berpotensi terjadi di wilayah perairan Nusa Tenggara Barat dengan ketinggian berkisar antara 1,25 meter sampai 4 meter. Kawasan perairan yang mengalami gelombang tinggi terletak di Selat Lombok bagian selatan yang berhadapan langsung dengan laut.

"Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan bencana dihimbau agar terus waspada dan siaga, terutama saat terjadi hujan lebat, untuk mengantisipasi dampak yang dapat terjadi, seperti banjir, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, sambaran petir, dan pohon tumbang," pungkas Satria.

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal memerintahkan organisasi perangkat daerah untuk segera mendistribusikan selimut, makanan, dan perlengkapan lainnya yang diperlukan oleh para korban banjir.

Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah menyebut banjir yang merendam Mataram terjadi di Lingkungan Sweta Timur, Kelurahan Mayura belakang Transmart, BTN River Side depan Vihara Avalokotesvara, Lingkungan Gedur, Kelurahan Abian Tubuh, BTN Sweta.

Selain Kelurahan Mandalika, Bertais, Lingkungan Pengempel Indah, Bertais, Lingkungan Kebon Duren, Kelurahan Sayang Sayang, Sekarbela, dan Kekalik.

30 Ribu Jiwa Terdampak

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (BPBD NTB) melaporkan sebanyak 7.676 kepala keluarga atau setara 30.681 jiwa terdampak bencana banjir akibat hujan yang melanda Kota Mataram dan daerah sekitarnya.

Kepala BPBD NTB Ahmadi mengatakan, ada enam kecamatan di Kota Mataram yang terdampak banjir, yakni Sandubaya, Mataram, Cakranegara, Sekarbela, Selaparang, dan Ampenan.

"Korban luka-luka sebanyak 15 jiwa dan korban mengungsi ada 520 jiwa. Sedangkan, korban meninggal dunia dan korban hilang masih dalam proses pendataan," ujar Ahmadi ​​​​​​​di Mataram, Senin (7/7).

Ahmadi menjelaskan, sungai-sungai yang mengalir di Kota Mataram meluap dan merendam pemukiman penduduk akibat hujan intensitas sedang hingga lebat pada Minggu (6/7/2025) mulai pukul 14.00 WITA sampai sore.

Peristiwa itu menyebabkan puluhan mobil terseret banjir, pohon tumbang, dan tembok keliling tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Sandubaya roboh ke arah jalan.

"Kondisi saat ini sudah kondusif. Tim gabungan bersama saat ini sedang melakukan pembersihan material sisa banjir," kata Ahmadi.

Lebih lanjut dia mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati ketika berada di luar rumah dan tidak membuang sampah ke saluran air agar tidak memicu luapan banjir saat hujan. Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai terhadap potensi hujan dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

Rekomendasi