Total 9 dari 13 orang korban meninggal pada insiden ledakan pemusnahan amunisi kedaluarsa di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, adalah warga sipil. Menurut keterangan warga, para korban sipil yang meninggal adalah orang-orang yang bekerja atau turut membantu dalam aktivitas tersebut.
"Iya betul pekerja," kata Kepala Badan Permusyawaratan Desa Sagara, Doni David, saat dihubungi Rabu (21/5).
Dia mengatakan, korban yang berasal dari Desa Segara dan dia kenali adalah Rustiawan dan Agus. Sedangkan 7 korban lainnya, tidak dia kenal secara langsung lantaran berasal dari desa yang lain.
"Warga Desa Sagara yang menjadi korban hanya kang Rustiawan (semacam danru sipil) dan kang Agus," lanjutnya.
Dia juga mengirimkan video, memperlihatkan sejumlah warga tengah bekerja dengan amunisi di semacam tenda.
"Mungkin, korban yang lain tugasnya di luar tenda, entah sebagai tukang gali lubang buat ledakan, atau mensopir angkut (amunisi) dari tenda atau gudang ke sumur ledak. Karena menurut cerita kang Rustiawan semasa hidupnya, tim itu sudah punya tugas masing-masing," imbuh dia.
Berdasarkan data yang diterima, selain almarhum Rustiawan dan Agus, korban sipil lainnya adalah Ipan bin Obur, Anwar bin Inon, Iyus bin Inon, Iyus Rizal bin Saepuloh, Toto Hermanto, Dadang, dan Endang.
Kakak Ipar Toto Hermanto, Siti Aminah (60), mengatakan bahwa adiknya telah bekerja dalam aktivitas disposal amunisi kedaluarsa TNI AD selama 4 tahun, dan pernah juga di luar pulau seperti Sulawesi. Menurut dia, sebagai tenaga perbantuan, Toto betugas sebagai penyusun amunisi.
Dia pun menepis kabar bahwa para korban meninggal dalam insiden tersebut tengah mengambili sisaan logam dari amunisi.
"Penyusun. Emang pekerjaan gitu membantu TNI. Bukan pemulung dia," katanya kepada awak media usai pemakaman Toto beberapa waktu lalu.
Istri dari korban atas nama Endang Rahmat, yakni Dede (43) mengatakan suaminya bertugas sebagai sopir pengangkut amunisi. Keterlibatan suaminya, menurut Dede, berawal dari ajakan Rustiawan, yang juga korban jiwa dalam insiden ini.
"Jadi awalnya dapat kabar (adik meninggal). Tapi saya tidak begitu yakin persisnya, apakah dia lagi nyusun (amunisi yang akan dimusnahkan) atau sedang bagaimana," ujarnya saat ditemui di RSUD Pameungpeuk, Rabu (13/5).
Keterlibatan warga sebagai pekerja, juga diketahui aparatur wilayah setempat, seperti Sekretaris Desa Sagara dan Camat Cibalong.
"Kerja sama TNI jadi kuli diperbantukan," ucap Sekretaris Desa Sagara, Agus Susanto saat dihubungi awak media, Rabu (14/5).
Sementara itu, Camat Desa Cibalong Faizal mengatakan bahwa kerja sama terjalin melalui Ruh atau Rustiawan, yang juga meninggal dunia dalam insiden itu. Dia menjelaskan bahwa menurut sepengetahuannya, Ruh memiliki kenalan di pihak TNI.
"Sebagai ketua kelompoknya (pekerja perbantuan) Ruh. Ruh itu sekenal saya beliau itu low profile dan juga dia sudah dekat dengan dari pihak TNI," ucap dia saat ditemui di kantor Kecamatan Cibalong, Rabu (14/5).
Advertisement