Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berhasil melakukan operasi penyelamatan dramatis. Sebanyak enam orang peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama seorang nakhoda kapal berhasil dievakuasi setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami mati mesin di perairan Selat Nasik, Belitung.
Insiden ini terjadi pada Sabtu, 23 Agustus 2025, ketika para peneliti sedang dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan kegiatan riset terumbu karang. Berkat respons cepat dari Unit Siaga SAR Tanjungpandan, seluruh penumpang dan nakhoda dapat diselamatkan dalam keadaan selamat dan sehat.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang, I Made Oka Astawa, mengonfirmasi keberhasilan operasi evakuasi ini. Kejadian tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan tim SAR dalam menghadapi situasi darurat di laut.
Advertisement
Advertisement
Kronologi Kejadian Mati Mesin di Selat Nasik
Perjalanan tim peneliti BRIN dimulai pada pagi hari tanggal 23 Agustus 2025. Mereka berangkat dari dermaga nelayan Tanjungpandan menuju Pulau Lancur di Selat Nasik. Tujuan utama mereka adalah melakukan penelitian mendalam mengenai terumbu karang yang ada di pulau tersebut.
Setelah tiba di Pulau Lancur sekitar pukul 09.30 WIB, keenam peneliti segera memulai aktivitas riset mereka. Mereka menghabiskan beberapa jam untuk mengumpulkan data dan melakukan observasi yang diperlukan untuk studi ilmiah mereka.
Memasuki sore hari, tim peneliti bersama nakhoda memutuskan untuk kembali ke dermaga Tanjungpandan. Namun, saat kapal berlayar kurang lebih dua nautical mile dari Pulau Nasik, mesin kapal tiba-tiba mati total. Upaya nakhoda untuk memperbaiki kerusakan mesin tidak membuahkan hasil karena kendala yang cukup berat.
Advertisement
Menyadari situasi darurat tersebut, salah satu peneliti segera menghubungi Unit Siaga SAR Tanjungpandan untuk meminta bantuan evakuasi. Permintaan ini menjadi langkah krusial yang memicu operasi penyelamatan oleh tim SAR gabungan.
Advertisement
Operasi Penyelamatan Cepat oleh Tim SAR Gabungan
Menerima informasi mengenai kapal mati mesin tersebut, Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang langsung merespons dengan cepat. Mereka memerintahkan Unit Siaga SAR Tanjungpandan untuk segera mengerahkan satu Tim Rescue menuju lokasi kejadian.
Lokasi kapal yang mengalami masalah berada sembilan nautical mile dari Dermaga Tanjungpandan, tepatnya pada koordinat 2°48'15.6"S 107°29'15.6"E. Tim SAR gabungan, yang didukung oleh rescuer dari USS Tanjung Pandan dan Satpolairud Polres Belitung, bergerak menuju lokasi menggunakan RIB Basarnas.
Setibanya di lokasi, tim SAR gabungan segera melakukan evakuasi terhadap para peneliti ke kapal RIB. Sementara itu, nakhoda kapal memilih untuk lego jangkar di lokasi kejadian. Ia kemudian menghubungi rekan-rekan nelayannya untuk meminta bantuan perbaikan mesin kapal yang rusak.
Advertisement
Proses evakuasi berjalan lancar meskipun kondisi cuaca saat itu sedikit diwarnai hujan. Namun, hal tersebut tidak menyulitkan tim penyelamat dalam menjalankan tugasnya. Seluruh tujuh orang, terdiri dari enam peneliti dan satu nakhoda, berhasil dipindahkan dengan aman.
Advertisement
Kondisi Selamat dan Apresiasi untuk Tim Penyelamat
Setelah memastikan semua korban, termasuk nakhoda kapal, dalam keadaan selamat dan sehat, tim SAR segera membawa para peneliti menuju Dermaga Tanjungpandan. Kondisi fisik dan mental mereka dilaporkan baik, tanpa ada cedera serius yang dialami selama insiden tersebut.
I Made Oka Astawa menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh personel SAR gabungan yang telah berkontribusi dalam proses evakuasi ini. Kerja sama antarinstansi menjadi kunci keberhasilan operasi penyelamatan yang cepat dan efektif.
Kejadian ini menunjukkan profesionalisme dan kesiapsiagaan tim SAR dalam merespons panggilan darurat di perairan. Insiden mati mesin kapal di Selat Nasik ini berakhir dengan baik berkat koordinasi yang solid dan tindakan sigap dari semua pihak terkait.
Advertisement
Diharapkan kejadian serupa dapat menjadi pelajaran bagi para pelaut dan peneliti untuk selalu memastikan kondisi kapal dan peralatan keselamatan sebelum melakukan perjalanan, terutama di wilayah perairan yang luas dan berpotensi menghadapi kendala teknis.
Sumber: AntaraNews