Jerit Hati Warga Batam Sulit Dapat Elpiji 3 Kg di Pangkalan, Terpaksa Rogoh Kocek Dua Kali Lipat Beli di Warung

Warga mengeluh harga elpiji dijual warung pinggiran lebih mahal dari pengecer.

Ajang Nurdin
Oleh Ajang Nurdin - Reporter
Jerit Hati Warga Batam Sulit Dapat Elpiji 3 Kg di Pangkalan, Terpaksa Rogoh Kocek Dua Kali Lipat Beli di Warung
Ibu rumah tangga di Batam sulit dapat LPG 3 Kg di pangkalan dan agen. (Foto: Liputan6.com/Ajang Nurdin) (© 2025 Liputan6.com)

Maryati, seorang ibu rumah tangga berusia 38 tahun yang tinggal di kawasan perumahan Legenda Malaka Batam Centre, Batam, mengeluhkan kesulitan dalam mendapatkan gas melon. Maryati mengaku, suaminya yang bekerja serabutan sering kali membuatnya bingung saat tabung LPG 3 Kg yang digunakannya habis.

"Saya suka resah kalau jelang tabung gas melon satu-satunya habis, padahal di sekitar tempat saya banyak pangkalan dan agen, setiap saya membeli kosong," kata Maryati dengan nada penuh keputusasaan.

Setelah mengunjungi pangkalan yang ternyata kosong, Maryati terpaksa membeli gas melon dari pedagang di pinggir jalan meskipun harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga normal.

Dia menjelaskan bahwa harga yang ditetapkan oleh penjual eceran sering kali tidak konsisten. "Apalagi saat kondisi gas melon langka, harga bisa naik hingga 50 persen hingga 100 persen. Dari harga Rp22 ribu bisa mencapai Rp30 ribu hingga Rp45 ribu," kata Maryati.

Hal ini membuat Maryati merasa bingung, karena dia merasa berhak mendapatkan gas bersubsidi, tetapi kenyataannya justru menghadapi kesulitan dan harus mencarinya sampai ke daerah lain.

Maryati juga merasa heran mengenai keberadaan ribuan tabung gas melon yang selama ini disalurkan. Meskipun banyak pangkalan dan agen di setiap blok perumahan, dia tetap kesulitan untuk mendapatkan gas tersebut.

Dia mencatat bahwa Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Pertamina sering melakukan penertiban, namun kenyataannya jumlah pengecer gas melon di pinggir jalan justru semakin meningkat.

Pasokan Elpiji Terlambat

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, menyatakan bahwa peraturan mengenai penggunaan elpiji yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM telah diterapkan di Batam sejak tahun 2019. Dengan adanya regulasi ini, pengecer dilarang menjual elpiji, sehingga distribusi dilakukan langsung dari agen ke pangkalan resmi.

"Alhamdulillah, di Batam sejak 2019 peraturan ini sudah berlaku. Jadi pengecer tidak pernah bisa menjual karena memang tidak ada. Elpiji itu dari agen ke pangkalan, kemudian pangkalan menyalurkan sesuai aturan yang berlaku," kata Gustian di kantor Pemko Batam, Riau, Senin (3/2).

Namun, Gustian mengakui bahwa masih ada pengecer yang mencoba menjual elpiji secara ilegal. Untuk mengatasi masalah ini, pihak Disperindah Batam rutin melakukan inspeksi mendadak dan penertiban setiap bulan.

"Kami terus melakukan sidak ke lapangan agar pengecer tidak menjual lagi. Jika masih ada yang ingin menjual, kami siap membantu mereka mengurus izin pangkalan secara resmi," tambah dia.

Mengenai isu kelangkaan elpiji di Batam, Gustian menegaskan bahwa hal tersebut tidak ada kaitannya dengan keberadaan pengecer. Keterlambatan distribusi dari Pertamina lebih disebabkan oleh faktor cuaca, seperti gelombang tinggi dan angin kencang. Disperindag juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika mengalami kekosongan elpiji di daerah mereka.

"Jika ada keluhan, silakan lapor ke kami, bukan ke pihak lain. Kami siap turun langsung untuk memastikan distribusi berjalan lancar," kata Gustian.

Rekomendasi