Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memastikan pemerintah berupaya keras menekan stunting di Indonesia. Dia menyebut stunting sebagai neraka yang berada di dunia.
“Perlu saya sampaikan bahwa saat ini, kita sedang berusaha untuk menjauhkan keluarga kita dari neraka. Neraka tidak harus nanti setelah mati, tapi juga neraka dunia,” kata Muhadjir dalam konferensi pers Hari Keluarga Nasional 2023 di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (5/7).
Dia menyebut, menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka prevalensi stunting ada di 21,6 persen atau mengalami penurunan dari tahun sebelumnya mencapai 24,4 persen. Meski menurun, stunting tetap menjadi perhatian serius karena berdampak buruk pada sumber daya manusia (SDM).
Temuan Kementerian Kesehatan, stunting berpotensi memperlambat perkembangan otak, dengan dampak jangka panjang berupa keterbelakangan mental, rendahnya kemampuan belajar, dan risiko serangan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi hingga obesitas.
“Kalau ini (stunting) tidak diperangi, akan sulit (bagi kita) untuk menjadi negara maju dan kaitannya dengan prasyarat untuk menjadi negara maju itu bebas stunting,” ucap Muhadjir.
Advertisement
Muhadjir juga menyoroti kemiskinan ekstrem. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2022, kemiskinan ekstrem nasional sebesar 2,04 persen atau 5,59 juta jiwa. Angka itu juga mengalami penurunan dari data Maret 2021 yang sebesar 2,14 persen atau 5,8 juta jiwa.
Dia menegaskan, pemerintah terus berupaya mengentaskan kemiskinan ekstrem yang menjadi salah satu penyebab stunting dengan menargetkan jadi nol persen di tahun 2024.
Muhadjir melanjutkan tantangan lain yang dihadapi berupa masih banyak penyakit sosial yang kian marak dan harus diwaspadai. Misalnya, penggunaan narkoba hingga adanya pikiran sesat yang berujung ekstrem seperti aksi terorisme.
Muhadjir meminta peringatan Hari Keluarga Nasional ke-30 Tahun 2023 yang puncak acaranya akan digelar di Banyuasin, Sumatera Selatan, tanggal 6 Juli itu, bisa dijadikan momentum semua pihak untuk terus memperkuat kerja samanya dalam menciptakan keluarga berkualitas dan bahagia, serta bebas stunting.
“Pemerintah memiliki perhatian yang sangat serius dalam kaitannya dengan pembangunan keluarga. Kenapa keluarga ini penting? Karena keluarga ini unit terkecil dari sebuah negara. Kalau keluarganya baik, bahagia, maka negara itu secara teoritik juga akan bahagia,” kata Muhadjir, dilansir dari Antara.