Saran Dosen agar Mahasiswa Tak Terjebak 'Kutip Sumber' dalam Skripsi

Masalah yang sering terjadi, mahasiswa salah memasukkan asal sumber jurnal atau buku yang menjadi referensi skripsinya.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Saran Dosen agar Mahasiswa Tak Terjebak 'Kutip Sumber' dalam Skripsi
Kata Pengantar Skripsi. Liputan6 ©2020 Merdeka.com

Dosen Institut Bisnis dan Teknologi Pelita Indonesia, Dr. Astri Ayu Purwati, B.Sc, M.Sc mengungkapkan mahasiswanya sering terjebak dalam 'kutip sumber' saat menjalani sidang skripsi. Salah memasukkan asal sumber jurnal atau buku yang menjadi referensi skripsinya.

"Mahasiswa saya juga sering kena ini pada saat sidang skripsi, hati-hati ya, sidang skripsi ujian proposal skripsi, pengujinya selalu bilang 'bener nggak referensinya dari jurnal ini? Soalnya kalau saya lihat dari indikator-indikator ini sumbernya dari buku gitu tapi kok kamu nyantuminnya jurnal orang ya'," jelas Astri dalam webinar Mendeley 101 for Your Correct Citation bersama CV Publikasi Indonesia dan Cakap, platform pembelajaran online, Rabu (21/6).

Menurut dia, tak sedikit mahasiswa yang akhirnya lebih lama waktunya di dalam sidang skripsi atau bahkan sidang skripsi ulang hanya karena masalah referensi tersebut. Astri mengungkapkan, mahasiswa harus lebih teliti lagi dalam mengutip jurnal atau penelitian sebagai referensi.

"Buat mahasiswa, mengutip itu nggak harus satu sumber. Misalnya ada satu statement hasil penelitian yang memang berasal dari lebih dari satu jurnal, jurnal lama dan jurnal baru, jangan cuma ngambil jurnal barunya padahal jurnal baru ini adalah modifikasi dari jurnal yang lama, berarti Anda wajib masukkan dua-duanya," jelas dia.

Tapi kalau jurnal barunya tidak ada berkontribusi apa-apa, lanjut dia, atau pendapat dari jurnal yang lama maka kalian wajib masukkan jurnal yang lama. Apalagi bersumber dari buku, kata Astri, mahasiswa sering diingatkan kalau memang dasarnya buku, ambil bukunya tapi kalau jurnalnya melakukan melakukan modifikasi terhadap indikator-indikator yang ada di buku, ditambahkan ke dalam referensi.

Astri juga berpesan kepada mahasiswa khususnya, dosen, dan para akademisi untuk terus meneliti dan jangan pernah berhenti. Motivasi penelitian bisa bermacam-macam, mulai dari menyelesaikan tugas akhir hingga meraih gelar sarjana atau magister.

"Namun, jangan berhenti di situ. Meskipun hasil penelitian tidak selalu ditulis dan dipublikasikan, tetaplah melaksanakan penelitian. Tulisan dan publikasi kita bisa menjadi ilmu yang bermanfaat, terutama jika dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Ketika tulisan kita dikutip, itu menunjukkan manfaat yang luar biasa, terutama jika diterbitkan di jurnal internasional," tutur dia.

Ingatlah, lanjut Astri, ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah bagi kita dan akan selalu diingat. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti meneliti, menulis, dan tidak menyerah dalam melakukan publikasi.

"Saat ini, banyak teknologi canggih yang dapat membantu kita dalam publikasi ilmiah, salah satunya adalah Mendeley 101, platform pembelajaran online Cakap atau CV Publikasi Indonesia. Tetaplah semangat bagi seluruh rekan akademisi dan pembelajar di seluruh Indonesia, baik mahasiswa maupun dosen," jelas dia.

Rekomendasi