Kedatangan jemaah haji Indonesia kuota tambahan akan berlangsung hingga 23 Juni 2023. Sebanyak 4.000 lebih jemaah terpaksa dialihkan ke Bandara Madinah. Penyebabnya, slot pendaratan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah sudah penuh.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Haryanto, mengatakan, sejak 15 Juni lalu, dijadwalkan ada 24 kelompok terbang kuota tambahan yang diberangkatkan ke Tanah Suci.
Meski begitu, pemerintah Indonesia melalui Kantor Urusan Haji (KUH) di Jeddah tengah melobi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi agar jemaah haji kuota tambahan ini bisa mendarat di Jeddah seperti jemaah gelombang dua lainnya.
"Diupayakan supaya bisa melalui Jeddah," ujar Haryanto di Kantor PPIH Arab Saudi Daker Bandara, Jeddah, Sabtu malam (17/6).
Dengan mendarat di Jeddah, jemaah bisa langsung diberangkatkan ke Makkah yang jaraknya lebih dekat. Selain itu, pengeluaran biaya tak terduga bisa diminimalisir lantaran jemaah harus transit dan menginap semalam terlebih dulu di Madinah.
"Betul sekali (biaya membengkak), itu yang menjadi salah satu pertimbangan kami. Karena yang tadinya (tiba) di Jeddah langsung Makkah, ini mendarat di Madinah maka kita harus sewa hotel, kemudian konsumsi, dan transportasi dari Madinah ke Makkah," ucap Haryanto.
Sayangnya, hingga Minggu (18/6) belum ada titik terang terkait upaya jemaah haji kuota tambahan bisa mendarat di Jeddah. Penyebabnya, lalu lintas kedatangan jemaah haji di Bandara Jeddah sangat padat dan tidak hanya jemaah haji dari Indonesia saja yang tiba, tapi juga negara-negara lain di seluruh dunia.
"Sampai saat ini slot mendarat di Jeddah memang sudah full. Ketika nanti dari negara lain sudah longgar mungkin bisa. Mudah-mudahan bisa disetujui untuk mendarat di Jeddah," kata Haryanto.