Waspadai Narasi Berbahaya Kelompok Intoleran Gencar Disebar di Medsos

Untuk itu generasi muda harus mampu mencegah terjadinya penyebaran narasi negatif dari kelompok radikal di dunia maya.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Waspadai Narasi Berbahaya Kelompok Intoleran Gencar Disebar di Medsos
Demo toleransi agama. ©2013 Merdeka.com/Imam Buhori

Maraknya narasi keagamaan keliru di media sosial bisa menjadi salah satu akar dari radikalisme. Untuk itu generasi muda harus mampu mencegah terjadinya penyebaran narasi negatif dari kelompok radikal di dunia maya.

Ketua Lakpesdam PBNU Ulil Abshar Abdalla mengatakan, generasi muda tidak bisa menanggapi ideologi radikal jika tak memahami cara kerja kelompok tersebut di dunia maya. Hal itu disampaikan saat Pengukuhan Duta Damai Santri dan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya Regional Jawa Tengah di Semarang, Kamis (15/6).

"Peran generasi muda dalam menghadapi narasi keberagamaan yang radikal paling utama adalah memahami bagaimana cara kerja kelompok ini," kata Ulil dalam keterangannya, Kamis (15/6).

Menurutnya, masih banyak generasi muda termasuk para santri yang hanya menjadi pengguna media sosial pasif, padahal mereka memiliki ilmu agama yang cukup. Dirinya mengungkapkan bahwa santri memiliki ilmu yang banyak dan bagus karena mereka belajar ilmu dari para kiai.

"Kelemahan kurang banyak menulis, kurang banyak membuat dan memproduksi konten dan juga kurang canggih memahami bahasa komunikasi saat ini," imbuhnya.

Pria yang melanjutkan sekolah di Harvard University ini menyampaikan bahwa generasi muda dan para santri perlu memperkuat kemampuan komunikasi. "Padahal para santri memiliki ilmu, jadi tinggal memoles tekniknya saja," tuturnya.

Pihaknya berharap setelah mengikuti kegiatan pelatihan ini, generasi muda termasuk para santri khususnya di daerah Jawa Tengah ini memiliki kemampuan dan terus meningkatkan keahlian yang mereka miliki.

"Saya berharap setelah mengikuti pelatihan ini mereka menjadi generasi muda yang punya skill teknis yang mumpuni sehingga bisa menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang rahmatan lil alamin sesuai dengan bahasa sekarang," jelasnya.

Ulil juga menyampaikan akar penyebab radikalisme berbasis agama sangat kompleks dan ada beberapa faktor yang berkontribusi. Karena itu, radikalisme berbasis agama tidak bisa dipisahkan dari konteks masyarakat modern dengan seluruh karakteristik masyarakat.

"Faktor-faktor tersebut dapat menciptakan rasa marginalisasi, frustrasi, dan keputusasaan yang dapat menyebabkan individu menganut ideologi radikal," ungkap Ulil.

Selain itu, lanjutnya, agama dapat digunakan sebagai alat untuk membenarkan tindakan kekerasan dan mendapatkan dukungan dari orang lain yang memiliki keyakinan sama. Untuk mengatasi masalah radikalisme berbasis agama, penting untuk mengatasi akar penyebabnya dan mempromosikan pendidikan, toleransi, dan pemahaman.

"Hal ini dapat dicapai melalui inisiatif yang mempromosikan dialog antaragama, memberikan peluang sosial dan ekonomi bagi komunitas yang terpinggirkan, dan melawan narasi ekstremis secara online dan offline," tutupnya.

Rekomendasi