Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim Indonesia telah memiliki obat Covid-19 baru yang dinilai lebih efektif dalam proses penyembuhan. Obat ini merupakan obat antivirus oral bernama nirmatrelvir/ritonavir atau Paxlovid.
Untuk penggunaannya, Paxvloid diberikan kepada pasien dengan tingkat keparahan ringan hingga sedang dan berpotensi menjadi berat.
Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes L Rizka Andalusia mengatakan, obat ini tidak diberikan kepada anak-anak. Hanya orang dewasa dengan gejala ringan yang berpotensi menjadi gejala berat yang dapat mengonsumsinya.
"Teknis pemberian Paxlovid ini satu treatment course untuk lima hari. Obat ini adalah kombinasi dua obat atau dua antivirus yang diminum bersamaan, diminum satu kali sehari selama 5 hari. Jadi treatment itu selama 5 hari," kata Rizka dalam rilis resminya dikutip Jumat (14/4).
Rizka juga menambahkan, Paxlovid sudah dapat izin edar dari Badan POM Amerika dan sudah terbukti secara klinis. "Jadi obat ini untuk orang-orang yang mempunyai faktor gejala ringan yang berpotensi jadi berat," kata Rizka.
Advertisement
WHO Representative to Indonesia Dr N Paranietharan mengklaim pasien Covid-19 yang mengonsumsi Paxlovid dapat mengurangi rawat inap dan risiko kematian hingga 89 persen.
"Jika kita jatuh sakit, Paxlovid akan mencegah kita berpindah dari gejala ringan ke penyakit parah. Ini pertama kalinya ada di Indonesia dan itu berhasil," ungkap Paranietharan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyediaan stok obat dalam negeri merupakan upaya pemerintah menjamin masyarakat mudah mengakses obat.
"Kita harus memiliki obat yang tersedia di dalam negeri. Jadi ketika seseorang terkena penyakit, mereka tidak perlu panik, mereka tidak harus bergantung pada pemerintah. Mereka dapat pergi ke fasilitas kesehatan yang dekat untuk mendapatkan akses ke obat ini," kata Budi
Sebagai informasi, ketersediaan Paxlovid merupakan hasil kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Amerika Serikat dan Australia. Total 24.096 dosis didonasikan untuk Indonesia.
Obat ini merupakan obat terakhir yang ditemukan setelah Favipiravir dan Molnupiravir. Saat ini Paxlovid sudah berada di instalasi farmasi pusat Kemenkes dan akan didistribusikan ke 34 provinsi.
Pada tahap awal distribusi obat akan diprioritaskan kepada daerah yang sangat membutuhkan.