Aparat keamanan di Jayawijaya melarang warga membawa senjata tajam, seperti parang hingga panah, memasuki Kota Wamena. Larangan ini untuk menjaga ketertiban masyarakat menyusul kerusuhan yang menyebabkan belasan orang tewas di wilayah itu.
Komandan Kodim 1702/Jayawijaya Letkol Cpn Athenius Murip mengatakan, pelarangan itu telah disepakati jajaran TNI-Polri bersama Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.
"Saya ada di sini bersama anggota dan Kepolisian Polres Jayawijaya. Kami akan terus didukung oleh pemerintah untuk melakukan patroli. Bapa-Ibu tidak usah khawatir, Bapak-Ibu bisa melihat saya telah melarang itu, seperti yang dulu-dulu ada bawa parang, panah dan lain-lain masuk ke Kota Wamena, kita sudah larang. Itu bisa dipakai jika sudah keluar dari Kota Wamena," ucap Athenius Murip seusai ibadah bersama para pengungsi di Gereja GKI Maranatha Kodim Wamena, Kamis (2/3).
Pelarangan itu juga diberlakukan mulai dari Sinakma, Honai lama, Hom-hom, Pike, Woma, hingga Wesaput. Tidak boleh lagi masuk membawa senjata tajam ke dalam Kota Wamena.
"Sudah kita imbau dan sedang berlangsung, agar kejahatan-kejahatan lain di Kota Wamena dapat terhindarkan, tapi juga untuk dituntaskan," tutur Athenius Murip.
Hal itu disampaikan Athenius kepada para pengungsi, mengingat Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Lanny Jaya, dan Nduga telah menanggapi tuntutan aspirasi keluarga korban kasus kerusuhan Kamis (23/02) lalu, untuk diberikan kompensasi kepada keluarga korban kerusuhan.
Advertisement
Sementara Pangdam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustofa bersilaturahmi dan memberikan bantuan kepada anak-anak yang mengikuti orang tua mereka mengungsi ke Kodim 1702/JWY di Jalan Yos Sudarso, Distrik Wamena Kota, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.
Pangdam meminta agar anak-anak untuk tetap belajar, bersabar, dan mendekatkan diri pada Tuhan, agar apa yang menjadi cita-cita dapat digapai di kemudian hari.
"Selama dalam pengungsian ini, anak-anak jangan lupa belajar, tapi juga bersabar, dan jangan lupa beribadah untuk mendekatkan diri pada Tuhan, agar apa yang menjadi cita-cita anak-anak, dapat tercapai," ujar Muhammad Saleh Mustofa.