Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan status sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri setelah puluhan warganya terinfeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penetapan status tersebut dilakukan sampai Oktober 2023.
"Difteri ini sudah dinyatakan KLB, jadi saya sudah tanda tangani bahwa difteri di Kabupaten Garut dinyatakan kejadian luar biasa,” kata Bupati Garut Rudy Gunawan, Selasa (21/2).
Rudy mengungkapkan bahwa merebaknya kasus difteri di Garut itu salah satu penyebabnya adalah karena tidak lengkap saat imunisasi. "Dan ada yang meninggal dunia itu diakibatkan bahwa mereka itu tidak mendapatkan vaksin sejak awal. Jadi daerah itu punya kepercayaan tidak perlu divaksin, harusnya kan dari awal, (jadi) tidak lengkap," ungkapnya.
Untuk mengantisipasi agar kasus difteri tidak semakin merebak di Garut, Rudy menyebut pihaknya akan memaksimalkan kegiatan vaksinasi difteri kepada anak-anak. Namun untuk fokus awal akan dilakukan di Kecamatan Pangatikan.
“Saya akan pimpin ya pada Senin depan. Itu akan ada secara massal dilakukan terhadap anak-anak yang balita sampai dengan anak-anak di bawah 9-10 tahun. Nanti bagaimana teknisnya ya yang akan dilakukan. Nah nanti kita akan lakukan se-Kabupaten Garut," imbuhnya.
Diberikannya vaksinasi massal difteri, dijelaskan Rudy, karena saat ini bakteri itu menyerang anak-anak yang usianya di bawah 15 tahun. Karena itu, ia minta agar seluruh anak mau disuntik vaksin difteri.
Advertisement
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Leli Yuliani mengatakan bahwa status KLB difteri akan berlangsung sampai Oktober 2023. "Itu karena nantinya akan dilakukan ORI atau outbreak response immunization sebanyak 3 kali dengan jarak 0 bulan, 1 bulan, dan 6 bulan," jelasnya.
Ori akan dilakukan untuk anak yang berusia 2 bulan sampai 15 tahun, khususnya yang berada di Kecamatan Pangatikan. "Akan dimulai hari Senin 27 Februari 2023 besok," paparnya.
Sebelumnya, difteri menjangkiti warga di Desa Sukahurip, Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, terdapat 73 orang warga yang diduga difteri hingga Minggu (19/2) dengan mayoritas penderita adalah anak-anak.
Leli Yuliani mengatakan bahwa kasus difteri muncul dalam empat pekan terakhir. Dari total 73 kasus tersebut, terdapat 4 kasus observasi difteri, 4 suspek difteri, 2 kasus konfirmasi positif difteri, 55 kontak erat, dan 7 orang meninggal dunia tanpa catatan medis yang lengkap.
"Dari tujuh orang tersebut, enam orang berusia anak-anak dan satu orang dewasa. Namun, kami belum dapat memastikan apakah penyebab kematian tersebut adalah difteri, karena belum sempat diperiksa melalui pemeriksaan laboratorium," kata Leli, Senin (20/2).