Solar Langka, Sopir Truk di Bali Ancam Demo

Ketua Umum Sopir Logistik Bali I Putu Oka Margana mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) solar terjadi di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di sejumlah wilayah Bali. Kelangkaan solar dirasakan sejak Sabtu (4/12).

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Solar Langka, Sopir Truk di Bali Ancam Demo
Ilustrasi antrean untuk mendapatkan BBM solar. ©2022 Merdeka.com/Abdullah Sani

Ketua Umum Sopir Logistik Bali I Putu Oka Margana mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) solar terjadi di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di sejumlah wilayah Bali. Kelangkaan solar dirasakan sejak Sabtu (4/12).

"Iya betul sekali. Sejak Sabtu kemarin sopir truk mengeluh karena kelangkaan solar, yang mereka pantau kan cuma di Bali. Kalau ke pom bensin yang ada itu dijatah Rp100 ribu dan Rp 200 ribu per truk. Kalau untuk mobil besar yang jelas kan tidak cukup," kata Putu Oka Margana saat dihubungi, Senin (5/12) sore.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa para sopir truk akan melakukan aksi turun ke jalan atau demo untuk menyampaikan aspirasi bila terus terjadi kelangkaan solar. "Kawan-kawan saya semuanya mengeluh, bahkan mereka kalau sampai beberapa hari ke depan terjadi kelangkaan solar. Mereka minta turun ke jalan mau menyampaikan aspirasi mereka. Itu permintaan mereka, sementara saya tahan dulu saya suruh bersabar siapa tahu ada keterlambatan pengiriman," jelasnya.

Terpaksa Menginap

Ia menambahkan, dengan adanya kelangkaan solar para supir truk mengalami keterlambatan pengiriman distribusi barang yang dibawa. Ada sopir truk yang terpaksa menginap karena menunggu kedatangan solar di SPBU.

"Jadinya ada keterlambatan distribusi barang. Hari ini 15 anggota saya harus menginap di pom bensin menunggu kedatangan solar. Karena mereka yang seharusnya tadi pagi bisa masuk ke Denpasar tidak bisa, harus menunggu kedatangan solar baru bisa jalan," ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa kelangkaan solar itu terjadi di sejumlah SPBU di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, hingga Denpasar. Selain itu, akibat penjatahan solar juga, pengemudi truk kesulitan karena harus melakukan perjalanan setiap hari.

"Ini tadi pagi di daerah Negara Jembrana kosong terus ke timurnya sampai hampir Denpasar. Cuman satu atau dua SPBU yang buka. Itu pun dijatah sampai ke Denpasar maksimal Rp 200 ribu. Kalau tidak dijatah, biasa full tank, kita jaraknya jauh," ujarnya.

"Sebelum kelangkaan solar ini, kita jalannya lancar-lancar saja tidak ada keluhan dari kawan-kawan. Harapan bagi kita, minyak itu bisa normal kembali karena tidak mungkin kita dijatah karena perjalanan kita hari ke hari tetap sama," ujarnya.

Rekomendasi