Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat empat dari enam balita penderita gagal ginjal akut meninggal dunia. Dua balita lainnya saat ini masih dalam perawatan di RSCM Jakarta.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, Faridz, menegaskan data tersebut didapat berdasarkan laporan yang diterima Dinkes Kabupaten Tangerang dari pihak Rumah Sakit yang menangani pasien.
"Dari enam pasien yang dirawat di RSCM ada yang meninggal, Juli sampai Oktober yang meninggal 4 balita," terang Faridz, dikonfirmasi, Selasa (25/10).
Dia belum dapat memastikan lebih rinci penyebab kematian empat anak balita penderita gagal ginjal akut tersebut. Sebab, empat dari anak balita yang meninggal dunia itu berusia lima tahun ke bawah.
"Umur 5 tahun 1 orang, umur 2 tahun 1 orang, umur 1 tahun 2 orang. Dengan jenis kelamin 1 perempuan dan 3 laki-laki," terang Faridz.
Advertisement
Diketahui, Kementerian Kesehatan mencatat penambahan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal nasional menjadi 255 per 24 Oktober 2022. Angka ini bertambah 10 kasus dari data 23 Oktober 2022 sebanyak 245 kasus.
Juru Bicara Komunikasi Kemenkes M. Syahril mengungkapkan, terdapat 143 pasien yang meninggal atau angka kematian sebesar 56 persen. Meskipun demikian, ia mengungkapkan bahwa kasus kematian tersebut merupakan kasus lama.
Kemenkes telah mendatangkan 26 vial obat penawar gagal ginjal akut yaitu Fomepizole yang terdiri dari 10 vial obat Fomepizole dari Singapura dan 16 vial dari Australia. Nantinya, Kemenkes akan mendatangkan ratusan vial dari Jepang dan Amerika Serikat sekitar 200 vial.
Advertisement
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, penyakit gagal ginjal anak awalnya masuk dari obat sirop yang dikonsumsi. Menurut dia, dalam setiap obat sirop digunakan pelarut tambahan.
"Ini adalah pelarut tambahan yang memang sangat jarang ditulis di senyawa aktif obat dan pelarut tambahan sebenarnya tidak berbahaya. Tapi kalau kualitas produksi pelarut tambahan buruk, dia menghasilkan cemaran cemaran," jelas Budi saat konferensi pers di Kemenkes, Jakarta, Jumat (21/10).
Cemaran tersebut yakni ethylene glycol (EG), diethylene glycol (DEG) danethylene glycol butyl ether (EGBE).bBudi mengatakan, tiga senyawa tersebut masuk ke tubuh dan terjadi proses metabolisme tubuh. Metabolisme tubuh yang alamiah itu mengubah senyawa tersebut menjadi asam oksalat, zat kimia berbahaya.
"Metabolisme mengubah jadi asam oksalat, nah ini berbahaya asam oksalat itu kalau masuk ke ginjal bisa jadi kalsium oksalat. Jadi kaya kristal kecil tajam. Sehingga kalau ada kristal kecil tajam di Balita kita ya rusak ginjalnya," kata Menkes.