Sejumlah anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Divisi 1 Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) diterjunkan ke Sekolah Dasar (SD) Negeri Sinagar yang berada di Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Di sana mereka akan melaksanakan tugas militer selain perang, yaitu perbaikan ruang kelas yang rusak bersama warga.
Komandan Brigade Infanteri Raider 13/Galuh/1 Kostrad, Kolonel Inf Jimmy Sitinjak mengatakan bahwa menurunkan sejumlah personelnya untuk merehabilitasi SDN Sinagar. Langkah itu dilakukan karena dinilai kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan.
Sebelumnya, TNI sempat mengecek kondisi sekolah dan kebetulan diketahui sejumlah warga yang tengah membangun gubuk untuk tempat darurat para siswa belajar.
"Kami langsung melaporkan kepada Pangkostrad (Panglima Komando Strategis Angkatan Darat)," kata Jimmy, Jumat (14/10).
Menerima laporan tersebut, diungkapkan Jimmy, Pangkostrad menginstruksikan Brigif Raider 13/Galuh untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait kegiatan rehabilitasi. Hasil koordinasi, diketahui bahwa pemerintah daerah mengaku belum memiliki anggaran perbaikan sekolah hingga tahun depan.
Advertisement
"Akhirnya, Panglima Kostrad meminta Brigif untuk membantu rehabilitasi empat ruangan yang rusak berat. Anggaran ini dari Pangkostrad," ungkapnya.
Sejumlah anggotanya, diakui Jimmu diterjunkan ke SDN SInagar untuk melakukan rehabilitasi kelas yang rusak. Kegiatan anggotanya di lapangan, disebutnya mendapat bantuan dari puluhan masyarakat sehingga diperkirakan rehabilitasi sekolah akan lebih cepat selesai.
Dia mengaku bahwa target rehabilitasi sekolah bisa selesai dalam kurun waktu satu bulan agar kegiatan belajar mengajar (KBM) bisa kembali berjalan dengan baik. Dan selain melakukan perbaikan di SDN Sinagar, pihaknya juga akan mensurvei sekolah-sekolah di Tasikmalaya, khususnya yang kondisinya rusak.
"Nanti ke depan kami akan lihat lagi kondisi sekolah lain. Harapannya kami juga bisa ikut membantu. Itu akan kami laporkan ke Panglima Kostrad," pungkasnya.
Advertisement
Sebelumnya, puluhan siswa SD Negeri Sinagar sejak Senin (10/10) terpaksa belajar di dalam gubuk. Mereka belajar di tempat itu karena ruang kelas yang biasa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) dinilai tidak lagi layak untuk digunakan.
Gubuk yang digunakan KBM terbuat dari bambu dilapisi terpal dan beratapkan genting. Gubuk tersebut dibangun guru bersama warga sekitar dan digunakan sebagai ruang kelas darurat.
Setidaknya ada dua gubuk yang dibangun para guru dan warga, ukurannya 4x6 meter dan 5x12 meter. Ruang kelas darurat itu digunakan puluhan siswa kelas 1, 2, dan 5.
Seorang siswa, Intan (7) mengatakan bahwa dia bersama teman-temannya belajar di kelas darurat itu sejak Senin kemarin. Ia mengakui bahwa belajar di kelas darurat lebih nyaman dan fokus belajar dibanding sebelumnya.
Sebelum pindah di ruang kelas darurat, Intan mengungkapkan bahwa dirinya bersama teman-temannya belajar di ruang kelas yang tidak ada atapnya. "Kalau hujan, kelas akan dibubarkan. Kalau panas ya jadi hareudang. Enakan di sini (kelas darurat), adem," ungkapnya.