Inspektur Jenderal Kementerian Sosial (Kemensos) Dadang Iskandar mengungkapkan hasil peninjauan lapangan atas kasus penimbunan bansos di kawasan Kampung Serab, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Ia menyebut, tak hanya bau beras saja, namun juga tercium bau busuk dari telur dan terigu.
"Saya baru sampai dari Depok. Kami dari lokasi penimbunan. Jadi kondisi yang tadi saya datangi itu kondisi (bansos) bau, bau sekali. Bau telur busuk dan segala macam," kata Dadang, saat konferensi pers di Kantor Kemensos, Jakarta, Selasa (2/8).
Tak hanya itu, dia mengatakan, pihaknya menemukan karung beras seberat 20 kg dan 5 kg. Sedangkan, kata Dadang, bantuan presiden (banpres) pada 2020 tidak menyalurkan beras seberat 5 kg.
"Tadi kami mencocokkan terkait bantuan beras itu sendiri. Pertama karung beras memang ada 20 kg, ada 5 kg. Seingat kami saat bantuan itu diluncurkan untuk beras 20 kg," paparnya.
Dadang juga menemukan, di karung beras tersebut tidak ada stiker khusus yang menerangkan bahwa bansos beras tersebut berasal dari bantuan presiden.
"Dari yang kami lakukan saat evaluasi dulu, ini sudah berlebel ada bantuan presiden melalui kementerian sosial, tadi tidak ditemukan. Nah itu tadi tidak ditemukan karena tadi saya ke lapangan lihat barang-barang, itu tidak ada, ditemukan," ungkapnya.
Advertisement
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sosial Tri Rismaharini menyampaikan, bahwa temuan tim kemensos merupakan fakta awal yang memerlukan pendalaman lebih lanjut.
Namun, ia menegaskan, bahwa bantuan yang disalurkan kementerian sosial tidak berupa tepung dan telur.
"Kita tidak tahu tadi yang tepung itu apakah bagian dari ini, mungkin saja bisa dibuangi orang kan. Mungkin bisa saja dibuangi orang, tapi yang jelas yang kita bantu tuh tidak pernah memang kita bantu tepung itu enggak pernah," kata Risma.