Pandemi Covid-19 menjadi katalis bagi Sumba Timur untuk meningkatkan kualitas diri, demi memenuhi kebutuhan pasar. Kain tenun ikat, masih menjadi sektor andalan Sumba Timur untuk mendongkrak sektor perekonomian.
Merliaty Simanjuntak sebagai istri dari Bupati Sumba Timur, Khristofel Praing, menyampaikan bahwa pemerintah Kabupaten Sumba Timur sudah menggagas sekolah khusus tenun. Tujuannya, agar warga Sumba Timur dapat beradaptasi dengan kondisi pasar, tanpa menghilangkan entitas mereka sebagai pengrajin tenun ikat.
Usia sekolah tenun ini memang masih baru, bahkan peserta dari sekolah ini kurang dari 100 orang. Namun demikian, Merliaty memastikan sekolah tenun merupakan proyek serius pemerintah kabupaten Sumba Timur untuk tetap melestarikan tenun Sumba.
Keseriusan itu ditandai dengan kerjasama Dinas Perindustrian Sumba Timur dengan Perguruan Tinggi di Yogyakarta, dan pelaku-pelaku seni tenun.
"Kami menggagas sekolah tenun bekerjasama dengan perguruan tinggi di Yogya, kami minta kerjasama internasional, kita kerjasama dengan pelaku-pelaku seni yang terpanggil mau memberikan dirinya untuk melestarikan ini, ada beberapa orang yang kita ajak mengajar di sekolah tenun," kata Merliaty saat turut menyemarakan ICraft 2022 di Jakarta Convention Centre, Kamis (14/4).
Sekolah khusus tenun itu juga memiliki fasilitas laboratorium untuk memastikan warna yang dipakai adalah warna alami. Kemudian, segala motif pada kain tenun akan mendapatkan kodifikasi.
Keberlangsungan sekolah khusus tenun tetap berjalan, meski terkendala pandemi Covid-19 yang membatasi kegiatan dan interaksi antar individu.
Meski begitu, Merliaty menilai hampir 1-2 tahun belakangan industri tenun ikat mulai beradaptasi. Misalnya, motif naga atau udang pada kain tenun.
Advertisement
Jika dahulu, motif naga dan udang dikhususkan untuk seremonial kematian, hal itu tak berlaku lagi di permintaan pasar masa sekarang. Peminat kain tenun ikat dengan motif naga, udang, kuda, buaya, tak lagi memakai kain itu pada acara kematian.
"Motif naga itu biasanya dipakai di acara kematian karena naga, udang itu punya sisik yang akan dilepaskan, itu menggambarkan peralihan dari alam kehidupan sekarang dengan alam baka, dan itu dipakai di acara kematian tapi sekarang itu sudah kita lihat ada perubahan," jelasnya.
Merliaty juga menjelaskan, Pemkab Sumba Timur terus mencari dan memberikan solusi kepada para pengrajin tenun ikat. Menyadari kebutuhan pasar harus memiliki efisien waktu, pengrajin mencari alternatif pemanfaatan pewarna alam.
Jika dulu, pengrajin harus masuk ke hutan mengumpulkan tumbuh-tumbuhan dan diolah sebagai pewarna alami terhadap kain tenun ikat yang sedang ditenun. Kali ini pengrajin mengumpulkan tumbuhan dan mengolahnya menjadi bubuk atau cairan warna, agar bisa dipakai kapanpun.
"Kita enggak mau dong ketinggalan untuk memenuhi kebutuhan itu, warna alam tetap kita jaga tetapi mungkin cara membuatnya mulai menanam dan mendapatkan alternatif lagi dari warna-warna lain dan budidaya tanaman untuk pewarna alami. Kemudian diproses menjadi bubuk atau cairan yang bisa mempercepat proses untuk pewarnaan sehingga memangkas waktu untuk harus ke hutan," jelasnya.