Balita di Kabupaten Bekasi Terbiasa Makan Kertas, Sandal hingga Styrofoam

Seorang balita di Kampung Bulak Sukadana RT02 RW 05, Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, memiliki kebiasaan tidak lazim. Dia suka memakan kertas dan benda-benda lainnya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Balita di Kabupaten Bekasi Terbiasa Makan Kertas, Sandal hingga Styrofoam
Viral bocah makan kertas di Bekasi. ©2022 Instagram @muaragembongkita/ Merdeka.com

Seorang balita di Kampung Bulak Sukadana RT02 RW 05, Desa Jayasakti, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, memiliki kebiasaan tidak lazim. Dia suka memakan kertas dan benda-benda lainnya.

Balita berinisial GI (3) ini mengonsumsi kertas dan benda lain seperti memakan jajanan, sejak berusia satu tahun.

PS (34), ibu GI , sudah berkali-kali melarang putranya melakukan kebiasaan aneh. Namun balita itu selalu marah dan menangis ketika kebiasaannya itu dihentikan ibunya.

"Awalnya saya enggak tahu kalau Gibran suka makan kertas, pas tahu sempat saya larang, tapi dia malah nangis dan marah-marah," kata PS, Selasa (22/3).

Tak Pernah Mengeluh Sakit

Kebiasaan GI yang aneh itu terus dilakukan tiga kali sehari. PS dan suaminya, MI, terus melarang, namun Gibran tetap memakan kertas layaknya camilan.

Hingga di usianya yang kedua, kebiasaan aneh GI semakin menjadi-jadi. Dia tidak hanya gemar makan kertas, tapi benda lainnya seperti styrofoam dan sandal juga dilalapnya.

"Sudah sekitar setahun makan sandal, styrofoam, juga kertas. Tapi anaknya enggak pernah sakit atau mengeluh sakit habis makan kertas atau benda lainnya," ungkap PS.

Hanya saat GI buang air besar, pada kotorannya terdapat benda-benda yang sudah ia makan dalam keadaan utuh.

"Keadaannya sehat, paling kalau buang air, di kotorannya ada bekas benda yang dia makan," katanya.

Tidak Ada Biaya

GI sempat dibawa ke puskesmas untuk dicek kesehatannya sekaligus konsultasi soal kebiasaannya. Dia pun diarahkan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.

"Saran dari dokter untuk diajak ke rumah sakit, tapi kita enggak ada ada biaya untuk perawatannya," kata PS.

Saat ini GI menjalani hari-harinya di rumah dengan tetap melakukan kebiasaan anehnya itu. PS berharap ada perhatian dari pemerintah daerah setempat agar kebiasaan aneh anaknya itu bisa hilang.

Rekomendasi