Merawat Karya Waldjinah, Sang Maestro Keroncong Indonesia

Lewat barang-barang tersebut, Waldjinah dan musik-musik keroncong Tanah Air dapat selalu dikenal, bahkan dipelajari.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Merawat Karya Waldjinah, Sang Maestro Keroncong Indonesia
Waldjinah Maestro Keroncong Indonesia. ©2022 Merdeka.com

Wajah Waldjinah sumringah sesaat rekaman suaranya mengalun diperdengarkan di Museum Musik Indonesia (MMI) Kota Malang. Pelantun lagu Walang Kekek itu butuh waktu beberapa saat untuk mengenali alunan suara khas bersumber dari piringan hitam.

"Suarane sopo yo, suaraku no iku," aku Waldjinah spontan dengan keyakinannya.

Spontanitas Waldjinah itu diikuti tawa para undangan yang berada di ruangan tersebut. Senandung lembut pun menyusul keluar dari mulut Maestro Keroncong Indonesia itu, mengikuti suara rekaman yang mengalun ke seluruh ruangan.

Selama berkarir sebagai penyanyi keroncong, Waldjinah telah merekam 1.760 lagu. Sebagian terekam dalam piringan hitam, sekitar 200 buah. Namun Waldjinah tidak memiliki koleksi keseluruhan, bahkan hanya beberapa saja.

"Saya cuma punya 7 buah, padahal kalau keseluruhan 200 plat," akunya.

Sebenarnya Waldjinah sejak awal mengoleksi setiap piringan hitam yang baru dirilis. Tetapi kemudian beberapa dipinjam atau diminta oleh teman-temannya.

"Sudah terlanjur dikasihkan ke temen-temen. Saya sampai mencari lagu saya, sudah diambil teman-teman. Saya sampai tidak punya," sambungnya.

Jejak Karir Sang Maestro

Waldjinah yang duduk di atas kursi roda menceritakan debut pertamanya saat masih berusia 12 tahun pada 1959. Saat itu suaranya menjadi pemenang Bintang Radio dan mendapatkan kesempatan rekaman. Rekaman pertama album Kembang Katjang (1959) di studio terbaik saat itu yakni Lokananta, Solo.

Sementara lagunya yang paling hits adalah Walang Kekek (1969). Saat itu rekamannya di Studio Elshinta, Jakarta dan diedarkan di Singapura, baru kemudian Indonesia.

Waldjinah tidak dapat menyembunyikan kebahagian saat melihat aneka piringan dan kaset lagunya yang masih terawat baik di MMI. Bahkan koleksi di rumahnya tidak sebanyak yang terpajang di rak MMI.

"Ini luar biasa. Aku seneng banget. Ooh berarti suaraku apik tenan, suaraku apik tenan yo, melengking. Saya the best kok," ungkapnya dengan gurauan.

Memilih Musik Keroncong

Selama 64 tahun, Waldjinah memilih berkarir di panggung musik keroncong. Kendati usianya saat ini sudah 76 tahun, tidak menghalangi untuk tetap menyumbangkan karya bagi bangsa lewat musik keroncong.

Waldjinah mengaku, 5 tahun terakhir memang berhenti melatih, selain karena sakit juga suasana pandemi covid-19. Tahun depan galeri miliknya kembali dirilis berikut program pengenalan batik.

"Saya akan melatih langgam dan keroncong di rumah. Free, tidak pakai bayar, ora nganggo mbayar," ungkapnya.

Galeri Walang Kekek di Jalan Parangcantel Nomor 31 Surakarta disiapkan untuk markas mengabdikan dirinya dan siapapun bisa datang untuk belajar musik keroncong dan membatik.

Waldjinah mengaku prihatin dengan kondisi musik keroncong di Tanah Air. Musik itu penuh sejarah yang harus dipertahankan eksistensinya.

"Sampai sekarang (musik keroncong) ya masih, ya walau matipun tidak, hidup pun tidak. Tapi kalau di Solo masih ya, setiap Minggu itu masih ada siaran radio yang menyiarkan keroncong. Di RRI Jakarta masih tayang seminggu sekali ya," urainya.

Waldjinah ingin memperkenalkan kepada anak-anak muda untuk mencintai musik keroncong. Mereka dipersilakan mengeksplore, bahkan meng-compare dengan genre musik lain.

Dia berharap anak muda tidak meninggalkan keroncong. Keroncong milik Indonesia. "Di mana-mana, seperti Belanda kepingin punya, saya diundang disuruh mengajar bagaimana nyelo, cakcuk, ngitarnya," urainya.

Merawat Karya Waldjinah

Ketua MMI, Hengki Herwanto salah satu yang merawat karya Waldjinah di museumnya. Sebagian besar merupakan sumbangan masyarakat dan membeli di Lokananta atau perusahaan rekaman lain.

"Kami mengoleksi 50 album milik Waldjinah," kata Hengki, usai menyambut kedatangan Waldjinah di MMI belum lama ini.

Selain piringan dan kaset, busana kebaya juga menjadi koleksi MMI. Busana yang diberikan oleh Waldjinah tersebut pernah digunakan tampil di Selandia Baru.

Lewat barang-barang tersebut, Waldjinah dan musik-musik keroncong Tanah Air dapat selalu dikenal, bahkan dipelajari. Karena keroncong menjadi kekayaan musik bangsa Indonesia yang harus terus dijaga keberadaannya.

Rekomendasi