Rocky Gerung Nilai Munarman Hadir di Acara Baiat ISIS Tak Bisa Disebut Satu Keyakinan

Menurut dia, secara psikologi ketika seseorang hadir dalam acara baiat atau dalam istilah agama kristen kerap disebut baptis tak bisa disebut lantas ikut ke dalam keyakinan itu. Karena keyakinan menurut dia, harus ada kesepakatan antara batin dan pikiran di saat acara baiat tersebut.

Bachtiarudin Alam
Oleh Bachtiarudin Alam - Reporter
Rocky Gerung Nilai Munarman Hadir di Acara Baiat ISIS Tak Bisa Disebut Satu Keyakinan
Rocky Gerung Bersaksi di Sidang Munarman. Bachtiaruddin

Akademisi Rocky Gerung menilai kehadiran seseorang dalam acara baiat tidak serta merta masuk atau berkeyakinan dengan kelompok tersebut. Hal itu disampaikan Rocky Gerung sebagai saksi meringankan dalam sidang perkara dugaan tindak pidana terorisme dengan terdakwa Munarman.

Menurut dia, secara psikologi ketika seseorang hadir dalam acara baiat atau dalam istilah agama kristen kerap disebut baptis tak bisa disebut lantas ikut ke dalam keyakinan itu. Karena keyakinan menurut dia, harus ada kesepakatan antara batin dan pikiran di saat acara baiat tersebut.

"Jadi kalau saya cuma dengar-dengar di situ cuma ada di situ hadir. Ya orang bisa aja ada apa sih ada apa? Ya dia datang aja, oh ini pembaptisan ya? jadi nggak ada hubungannya (ikut berkeyakinan)," kata Rocky Gerung ketika sidang di PN Jakarta Timur, Rabu (2/3).

Sehingga, kata dia, apabila dikaitkan dalam perkara Munarman, kehadiran mantan Sekretaris Front Pembela Islam (FPI) tersebut pada Januari sampai April 2015 dengan ikut menghadiri beberapa acara baiat hanya sekedar menghormati atas kehadirannya di acara tersebut.

Termasuk saat acara baiat berkedok seminar di Sekretariat FPI Kota Makassar, Markas Daerah Laskar Pembela Islam (LPI) Sulawesi Selatan, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Sudiang Makassar, dan Pusat Pengembangan Bahasa (Pusbinsa) UIN Sumatera Utara.

"Walaupun kita lihat dia khusyuk banget iya tapi intensinya nggak di situ. Lain fokusnya, jadi hanya karena dia hormati maka dia tidak bisa (disebut ikut keyakinan)," kata Rocky.

Lantas, Rocky menanggapi berkaitan diamnya seseorang dalam acara baiat, tidak bisa dikatakan setuju dengan keyakinan itu. Menurutnya persoalan pandangan Joe Biden soal "Silence Is Complicity, atau (Diam Adalah Keterlibatan) tidak sesuai.

"Joe Biden dia pakai itu dalam konteks yang lain, karena dia ingin dapat (merubah). Maka dia klaim itu politisi selalu klaim seperti itu, anda diam artinya anda setuju," ksys dia.

Namun pendapat Joe Biden, lanjut Rocky bisa berbeda dengan etika dalam pandangan feminisme yang memang melihat diamnya seorang perempuan tidak bisa dikatakan setuju. Karena diamnya perempuan, bisa difaktorkan karena didominasi laki-laki.

"Karena perempuan memang dikondisikan untuk diam oleh laki-laki, karena kebudayaan, karena culture, bukan karena diam maka dia setuju untuk diperkosa, nggak begitu. Diamnya itu menimbulkan respect pada kita, jadi tidak ada konsekuensi diam artinya setuju," lanjutnya.

Sekedar informasi jika dalam perkara ini, eks Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman, didakwa merencanakan atau menggerakkan orang lain melakukan tindak pidana terorisme.

Dia disebut menggunakan ancaman kekerasan yang diduga untuk menimbulkan teror secara luas. Termasuk juga diduga menyebar rasa takut hingga berpotensi menimbulkan korban yang luas. Selain itu, perbuatannya mengarah pada perusakan fasilitas publik.

Selain itu, Aksi Munarman diduga berlangsung pada Januari hingga April 2015 di Sekretariat FPI Kota Makassar, Markas Daerah Laskar Pembela Islam (LPI) Sulawesi Selatan, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an Sudiang Makassar, dan Pusat Pengembangan Bahasa (Pusbinsa) UIN Sumatera Utara.

Sehingga Munarman didakwa dengan Pasal 14 Jo Pasal 7, Pasal 15 Jo Pasal 7 serta Pasal 13 huruf c Undang-Undang serta Pasal 13 huruf c Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Rekomendasi