Ini Hasil Olah TKP di Lokasi Meninggalnya 11 Pelajar di Ciamis

Untuk dugaan adanya kelalaian dalam kejadian tersebut, Kapolres menyatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan lebih jauh. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah pihak sekolah menyiapkan alat-alat keselamatan atau tidak.

Mochammad Iqbal
Oleh Mochammad Iqbal - Reporter
Ini Hasil Olah TKP di Lokasi Meninggalnya 11 Pelajar di Ciamis
Evakuasi siswa MTs yang tewas saat susur sungai di Ciajur. ©2021 YouTube Warta Sekitar /editorial Merdeka.com

Kepolisian Resor Ciamis akhirnya merilis hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) kejadian meninggalnya belasan siswa di sungai Cileueur Leuwi Ili, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Tidak hanya melakukan olah TKP, pihak kepolisian pun sudah meminta keterangan dari sejumlah saksi mata di lokasi kejadian.

Kapolres Ciamis, AKBP Wahyu Broto Narsono Adhi mengatakan, hasil olah TKP dan keterangan para saksi, diketahui adalah saat para siswa MTs Harapan Baru melakukan kegiatan kepramukaan. Kegiatannya diketahui berisi pembersihan sampah di sekitar sungai.

"Kegiatannya susur sungai dari (arah) barat ke timur," ujarnya, Sabtu (16/10).

Ia menjelaskan, di salah satu titik, para siswa diketahui melakukan penyeberangan sungai dengan kedalaman maksimal 70 centimeter yang di atas dasar sungainya terdapat bebatuan.

"Arusnya waktu itu tenang, tidak kuat, tidak ada hujan. Muaranya ke selatan dengan kedalaman 2 meter. Saat (para siswa) menyeberang dari sisi barat ke timur setelah mengambil sampah. Mereka (saat) menyeberang beberapa ada yang terpeleset, ada yang menarik mungkin, masih menyelidiki, hanyut ke arah selatan di muara dengan kedalaman 2 meter," jelasnya.

Kapolres mengaku bahwa pihaknya belum mengetahui secara pasti kedalam muara saat kejadian apakah sama dengan saat pihaknya melakukan olah TKP. Namun muara tersebut dipastikan menjadi tempat tenggelamnya 13 orang korban yang dua di antaranya berhasil diselamatkan.

"13 Itu terbawa arus ke selatan, di mana di selatan itu lebih dalam dibanding posisi mereka saat menyeberang. Dari 13 orang itu, 11 orang meninggal, dua korban lainnya yang terdiri dari satu siswa dan satu Pembina sekarang sudah sadarkan diri," katanya.

Awalnya, diungkapkan Kapolres, mereka yang tenggelam dikira merupakan kelompok pertama, namun ternyata mereka diketahui berbarengan. Termasuk saat kejadian tergelincirnya siswa saat menyeberang, mereka diketahui sambil bergandengan tangan.

Dalam penyelidikan yang dilakukan pihaknya, Kapolres menyebut bahwa pihaknya belum menemukan adanya alat-alat keselamat saat dilakukan kegiatan kepramukaan itu.

“Kami belum menemukan adanya alat-alat keselamatan, baik pelampung atau tali. Saat menyebrang bergandengan tangan,” sebutnya.

Untuk dugaan adanya kelalaian dalam kejadian tersebut, Kapolres menyatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan lebih jauh. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah pihak sekolah menyiapkan alat-alat keselamatan atau tidak.

“Kami sayangkan harusnya ada (alat keselamatan), karena walaupun itu hanya menyeberang di kedalaman puluhan centimeter tapi sungai Cileueur itu punya sejarah kondisinya licin, bebatuannya juga memang licin dan Leuwi Ili itu juga adalah cekungan dalam, dan Ili ini adalah orang yang pernah tenggelam dan meninggal lalu diabadikan menjadi nama lokasinya,” katanya.

Kapolres memastikan bahwa pihaknya akan melakukan pemeriksaan secara profesional dan proporsional. Hingga saat ini sudah melakukan pemeriksaan terhadap empat orang dan meminta klarifikasi dari beberapa orang.

“Polisi masih bekerja terkait kejadian. Kami menelusuri kenapa bisa terjadi, kenapa tidak bisa dicegah kejadian itu. Saya yakinkan, ini menjadi pembelajaran walau pahit, kedepan mudah-mudahan bisa tercegah agar tidak terjadi lagi,” tutup Kapolres.

Rekomendasi