Kopi Tumbuh di Atas Tulang Belulang Kuburan Londo

Sudah empat tahun terakhir TPU yang dikenal sebagai 'kuburan londo' ini dimanfaatkan jadi perkebunan kopi. Pohon-pohon kopi tumbuh di antara deretan makam yang berjajar rapi.

Nanda Farikh Ibrahim
Oleh Nanda Farikh Ibrahim - Reporter
Kopi Tumbuh di Atas Tulang Belulang Kuburan Londo
Panen kopi di kuburan londo Malang. ©2021 Merdeka.com/Nanda Farikh Ibrahim

Sore itu ada pemandangan tak biasa di TPU Sukun Nasrani, Kota Malang. Barisan penggali kubur tak memegang cangkul. Caping dikenakan di kepala. Tangan kirinya menjinjing wadah anyaman. Sementara tangan kanannya memetik biji kopi. Memilih yang merah saja.

Sudah empat tahun terakhir TPU yang dikenal sebagai 'kuburan londo' ini dimanfaatkan jadi perkebunan kopi. Pohon-pohon kopi tumbuh di antara deretan makam yang berjajar rapi.

Budidaya ini bermula dari rencana menjadikan makam peninggalan era kolonial itu sebagai ruang terbuka hijau. Pohon kopi dipilih bukan hanya karena kemampuannya menghasilkan oksigen. Tetapi ada alasan historis. Kopi pernah menjadi komoditas pertanian paling laku di Eropa. Sehingga membuat Belanda datang ke Indonesia.

Taqruni Akbar, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Pemakaman Umum Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang berbagi cerita. Bibit kopi didatangkan dari kaki Gunung Kawi secara swadaya. Dibeli dengan uang hasil menjual kayu kering yang dikumpulkan di areal makam.

Awalnya ditanam 700 bibit kopi. Kemudian ditambah secara bertahap. Hingga kini telah mencapai 5.000 bibit. "Kita tanam yang jenis robusta, mengingat ketinggian tanahnya hanya 500-an mdpl," ujar pria akrab disapa Roni tersebut.

Di atas lahan seluas 12 hektare tersebut, hasil panen kopi diperkirakan bisa mencapai satu ton. Namun, sejumlah kendala membuat hasil panen menjadi kurang optimal. Jumlah tenaga yang terbatas membuat banyak pohon kopi tak terurus dengan baik. Selain itu, banyak juga biji kopi yang membusuk karena tak sempat dipanen.

Walau begitu, mereka mengaku puas dengan hasil panen saat ini. Meski di tengah keterbatasan, kebun ini bisa menghasilkan sekitar 200 kg biji kopi.

Biji kopi yang telah dipanen selanjutnya akan dijemur hingga kering dan berwarna kecoklatan. Kemudian disimpan dalam karung selama tiga bulan. Tujuannya untuk menghilangkan aroma daun.

Proses pengolahan seperti roasting dan giling, diserahkan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Koeboeran Londo. Pokdarwis yang terdiri dari masyarakat sekitar ini dibentuk untuk mengelola kompleks pemakaman jadi sebuah tempat wisata sejarah dan budaya.

Sejauh ini kopi yang telah diolah hanya dinikmati sendiri dan dijadikan jamuan bagi pengunjung makam. Walau begitu, telah disiapkan merek khusus untuk kopi tersebut, yaitu Kopi Tulang. Alasannya, karena ditanam di atas tulang-belulang.

Rekomendasi