Selalu ada cerita yang mengalun dari seberang Terminal Pulogadung, Jakarta Timur. Tepatnya di Jalan Perserikatan Rakyat, Kawasan Rawamangun. Cerita dan obrolan mengenai apa saja. Datang dari kios yang berjejer rapi.
Sambil beraksi dengan gunting dan sisir, Alam (56) selalu berbagi cerita dengan pelanggannya. Dia mengajak pelanggannya berbincang. Banyak hal. Salah satunya tentang kegagalannya menjadi tentara.
"Dulu saya pernah daftar jadi AKABRI tapi gagal. Tadinya saya tidak mau jadi tukang cukur," ujar Pria asal Garut yang sudah menetap di Jakarta sejak 1982.
Bagi sebagian orang, tentu sudah tidak asing dengan istilah Asgar. Singkatan Asal Garut. Pangkas rambut Asgar sudah tersebar di sudut-sudut gang di ibu Kota Jakarta dan sekitarnya.
Sudah 39 tahun Alam berkawan akrab dengan gunting, sisir, dan perlengkapan lainnya. Awalnya sekadar mencoba peruntungan setelah gagal memasuki gerbang akademi militer. Seiring waktu berjalan, penghasilan dirasa lumayan.
Advertisement
Berbagai model potongan gaya rambut terlihat pada poster yang terpampang pada dinding kios. Permintaan model atau gaya rambut apapun dari pelanggannya, selalu bisa dipenuhi. Tawaran berbagai model potongan rambut sebenarnya bukan cerita baru. Tapi sekarang makin beragam.
Kebanyakan pelanggannya laki-laki. Soal tarif atau jasa, tergantung usia. Ada juga yang berdasarkan jenis potongan rambut. Tapi tidak menguras isi kantong.
Masyarakat semakin sadar akan penampilan. Agar terlihat rapi dan menawan. Tak heran jika saat ini semakin menjamur bisnis pangkas rambut kekinian atau istilah kerennya barbershop. Pangkas rambut tradisional juga tak kalah. Mereka tetap bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Pada dasarnya keduanya sama-sama menawarkan jasa merapikan rambut. Yang membedakan adalah tempat dan harga. Pelanggan memiliki pilihan. Di depan terminal itu, enam kios pangkas rambut berdiri. Ada yang mulai membuka kiosnya sejak pukul 07.00 WIB. Ada juga yang mulai siang hari. Satu orang pemangkas rambut rata-rata bisa melayani 30 pelanggan dalam sehari.
Advertisement
Bukan hanya dari sisi bisnis yang mengikuti zaman, tapi juga model gaya rambut. Para pemangkas rambut dari kalangan anak muda pun bermunculan. Menjawab kebutuhan pelanggan yang menginginkan model rambut kekinian.
Sandi, pria asal Bandung, sebelumnya pernah bekerja menjadi buruh pabrik selama 5 tahun. Namun Pandemi Covid-19 membuat hidupnya berubah. Namanya masuk dalam daftar pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dia memberanikan diri menjadi pemangkas rambut. Sistemnya bagi hasil dengan rekannya pemilik kios pangkas rambut. Banyak cerita dan harapan yang terucap dari para pemangkas rambut. Merapikan rambut pelanggan sembari menata hidupnya sendiri.
Advertisement