Berani Berubah: Kisah Petani Kolang Kaling Hadapi Pandemi

Pak Umin bersama teman-teman seprofesinya bisa mengolah kolang-kaling sebanyak 50 kilogram dalam sehari. Mereka mulai bekerja sejak pukul 06.00 sampai 16.00 wib. Hasil olahan kolang-kaling dijual ke pasar-pasar di sekitar Tasikmalaya

Fellyanda Suci Agiesta
Oleh Fellyanda Suci Agiesta - Reporter
Berani Berubah: Kisah Petani Kolang Kaling Hadapi Pandemi
Petani Kolang Kaling. istimewa

Imbas pandemi Covid-19 tidak hanya dirasakan para pengusaha, tetapi juga menimpa para petani. Termasuk petani kolang-kaling. Sebelum pandemi menyebar di Indonesia, para petani meraup banyak keuntungan dari kolang-kaling. Apalagi di bulan puasa, petani kolang-kaling bisa mendapat dua kali lipat pendapatannya. Namun di masa pandemi, pendapatan turun drastis.

Pak Umin, salah satu petani kolang kaling di Tasikmalaya menceritakan perjuangannya bertahan di masa pandemi. Pak Umin merasa pandemi berpengaruh sekali terhadap kondisi perekonomian keluarganya.

Biasanya pak Umin mendapat upah berkali-kali lipat dari penjualan kolang-kaling saat bulan puasa. Tapi sejak pandemi muncul di Indonesia, harga penjualan kolang kaling turun drastis.

"Nah sebelum Corona, saya penjualan biasanya kalau mau masuk hari-hari, seperti sekarang mau masuk hari puasa kan, nah itu paling bagus paling tinggi. Mencapai sampai Rp12.000, yang paling normalnya tuh Rp8.000. Cuma berapa sekarang, Rp5.000 lah untuk 1 kilonya sekarang," kata pak Umin.

Pak Umin bersama teman-teman seprofesinya bisa mengolah kolang-kaling sebanyak 50 kilogram dalam sehari. Mereka mulai bekerja sejak pukul 06.00 sampai 16.00 wib. Hasil olahan kolang-kaling dijual ke pasar-pasar di sekitar Tasikmalaya.

Pak Umin juga menjelaskan cara mengolah kolang kaling. Pertama, pak Umin memanjang pohon buah kolang kaling. Dengan tangan dan kaki yang cekatan, pak Umin mulai memanjat menggunakan sebilah bambu.

Kemudian, pak Umin membawa buah kolang kaling ke tempat penampungan. Ia potong buah kolang kaling, kemudian direbus. Setelah direbus, buah kolang kaling diangkat dan dikupas.

"Dari awalnya kan naik diturunin (buah kolang-kaling) dari pohonnya. Di sini kan dikupas, nah langsung di jemur di sana, pakai drum. Dari mulai drum itu diangkat, di kebawahkan, itu baru di kupas satu persatu itu," kata pak Umin.

Setelah diolah, kolang-kaling dibawa ke penampungan untuk direbus dan didistribusikan ke pasar-pasar terdekat.

Meski merasa kesulitan, pak Umin tetap berusaha mengumpulkan buah kolang-kaling. Pak Umin menyadari, masih ada keluarga yang harus ia hidupi.

"Nah saya ambil lagi kolang-kaling sekarang, meskipun murah. Makanya saya cari lagi, kerjain lagi. Ini yang penting halal. Yang penting bagus, seperti ini bagus kata agama dan kata negara. Gak akan merugikan orang, gak akan merugikan diri kita sendiri," kata pak Umin.

Rekomendasi