Berekspresi di Kaki Jembatan Kedungkandang Malang

Michael Effan (30) asyik menyelesaikan mural di salah satu sisi kaki Jembatan Kedungkandang Kota Malang. Tangan kanannya begitu terampil membentuk pola dengan cat semprot yang selalu digoyang-goyang.

Darmadi Sasongko
Oleh Darmadi Sasongko - Reporter
Berekspresi di Kaki Jembatan Kedungkandang Malang
Mural di Flyover Malang. ©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko

Michael Effan (30) asyik menyelesaikan mural di salah satu sisi kaki Jembatan Kedungkandang Kota Malang. Tangan kanannya begitu terampil membentuk pola dengan cat semprot yang selalu digoyang-goyang.

Effan bersama dua orang temannya ikut ambil bagian mengekspresikan seni mural dan grafiti di tembok flyover. Kelompoknya memiliki waktu dua minggu untuk menyelesaikan karyanya bertema balapan.

"Saya dapat tema balapan, ini ambil tema angkot (angkutan kota) lokal Kota Malang. Saya ambil identitasnya warna biru sama tahun kelahiran Arema, 1987," kata Michael Effan di Jembatan Kedungkandang Kota Malang, Senin (22/3).

Gambar itu sengaja dipilih karena kenangannya saat masih duduk di bangku sekolah yang kerap diajak kebut-kebutan sopir angkot. Para pengemudi kerap bersaing saling mendahului guna memperebutkan penumpang.

Angkutan warna biru nan lincah itu tidak lepas dalam perjalanan hidup di jalanan. Jasanya dinilai luar biasa mengantarkan penumpang sesuai tujuannya. Effan menyelipkan angka 87 (1987), yang merupakan kelahiran Arema, tim sepak bola kebanggaan warga Malang.

"Saya ingat kalau naik angkot itu kebut-kebutan, atau berlomba dapat penumpang. Paling cepat sampai tujuan. Itu pengalaman saya waktu SMP sering naik angkot, pasti kalau ketemu angkot saling balapan," ungkapnya mengenang.

Walau saat ini angkutan kota masih bisa ditemui, tetapi keberadaannya mulai menurun. Banyak trayek yang sudah tutup karena sepi penumpang. Selain itu juga mulai banyak angkutan berbasis online yang menjadi pesaing.

"Sekarang jumlahnya mulai menurun karena pandemi, mulai dikuasai juga kendaraan oline. Saya mau apresiasi, apa yang saya alami waktu lampau itu. Jadi kenangan," ungkapnya.

Bagi Effan dan kawan-kawan, grafiti dan mural merupakan sarana berekspresi termasuk menyampaikan kritik sosial. Kesempatan untuk berkarya di tembok kaki-kaki jembatan Kedungkandang dinilai sebagai sebuah apresiasi yang selama ini kerap dinilai negatif.

"Kalau sekarang merasa diapresiasi, kalau grafiti sebagai bagian dari seni. Saya senang, karena pada awalnya grafiti itu stigmanya buruk sekali. Suka merusak, corat-oret segala macem. Walaupun sebenarnya itu berusaha mendobrak batasan media secara umum," urainya.

Effan sendiri keseharian merupakan pekerja seni yang kerap membuat karya ilustrasi, foto marchandise dan mural. Karyanya banyak dipesan untuk cafe, maupun rumahan dengan tema sesuai pesanan. Ia mengaku menyukai karya abstrak.

Effan yang mengaku pria buta warna ini berpendapat seni grafiti selalu memiliki pesan yang ingin disampaikan pembuatnya. Pesan itu salah satunya bermuatan kritik. kendati terkadang disampaikan dengan cara yang tidak biasa atau ilegal (corat coret). Baik yang legal maupun ilegal memiliki tantangan masing-masing yang dinilai Effan sama-sama menarik.

"Keduanya sama-sama menarik. Itu pilihan personal, itu grafiti memiliki pesan tertentu, yang secara ilegal juga punya pesan sendiri, caranya masing-masing. Keduanya sama-sama menarik, kalau yang legal dapat apresiasi, ilegal lebih bebas, mau mendobrak apa," jelasnya.

Sisi tembok kaki flyover Jembatan Kedungkandang dipenuhi karya seni mural dan grafiti. Temanya beragam dengan berbasis kehidupan masyarakat Kota Malang. Tampak lukisan menggambarkan tokoh Ken Arok (Raja Singhasari), lukisan pop art, karikatur dan lain-lain. 105 Orang dari berbagai komunitas terlibat dalam karya seni tersebut.

Rekomendasi