Dosen hubungan Luar Negeri Universitas Al Azhar Indonesia, Nizar Umar memandang, pengembalian Hagia Sophia menjadi masjid demi memperkuat pijakan Turki bagi independensi politik luar negerinya. Terlebih dalam menghadapi dinamika konflik internal, regional dan global.
"Pengembalian posisi Hagia Sophia sebagai masjid ini adalah sebuah proses Turki untuk memperkuat tumit pijakannya, karena Turki itu jelas islam sekali," kata Nizar dalam diskusi virtual Hagia Sophia dan Langkah Geopolitik Turki, Senin (27/7).
Pada 1934, di bawah kepemimpinan Presiden Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Turki modern, setelah jatuhnya Ottoman, masjid itu dijadikan museum.
Gedung ini dibangun pada abad keenam sebagai katedral. Namun dijadikan masjid pada 1453 ketika Ottoman, biasa disebut juga dengan Kekhalifahan Utsmaniyah, di bawah Mehmed II atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel yang kemudian berganti nama menjadi Istanbul.
"Karena 90 persen penduduknya muslim dan pemimpinnya luar biasa, tetapi tidak pernah mengatakan negaranya sebagai negara islam meskipun anggota OKI (Organisasi Kerja sama Islam)," ucap Nizar.
Menurut Nizar, Turki perlu pijakan yang kuat karena dilingkupi konflik internal antar berbagai ideologi. Termasuk sekuler dan ada beberapa yang atheis.
Advertisement
Kemudian ada konflik regional di sekitarnya seperti di Suriah, Baghdad, Iran dan Lebanon. Nizar bilang, Turki juga kurang harmonis dengan Yunani dan Uni Eropa.
"Dan Amerika Serikat pasca kudeta (Erdogan) gagal tahun 2016 juga hubungannya kurang baik. Juga dengan Arab Saudi hubungannya kurang baik setelah peristiwa Qatar, juga dengan Mesir hubungannya kurang baik pasca masalah di Libya," tuturnya.
Hal itu, kata dia, menyebabkan Turki harus mempunyai kebijakan yang jelas dan lebih kokoh dalam berpolitik. Khususnya dalam menjalankan politik luar negerinya.
Dia memandang, saat ini Rusia merupakan salah satu negara besar yang memiliki hubungan baik dengan Turki. Hal itu terlihat dari pernyataan Pemerintah Rusia ketika menanggapi konversi Hagia Sophia yang dipandangnya sebagai bagian dari kedaulatan dan urusan dalan negeri Turki.
"Itu posisi Rusia, ketika dimana konstantinopel jatuh itu para pendeta dan umatnya lari ke Rusia dan di sana membentuk Rusia Kristen ortodoks," pungkasnya.