Survei Kedai Kopi: Masyarakat Anggap Pembatasan Keagamaan Tak Efektif Cegah Covid-19

Survei 14-19 April dengan total responden 405 yang terbagi karakteristik laki-laki 47,7% dan perempuan 52,3% menggunakan metode telesurvei.

Bachtiarudin Alam
Oleh Bachtiarudin Alam - Reporter
Survei Kedai Kopi: Masyarakat Anggap Pembatasan Keagamaan Tak Efektif Cegah Covid-19
PSBB. ©2020 Merdeka.com

Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada sejumlah daerah, termasuk yang sudah berlaku di Jabodetabek telah memberlakukan beberapa aturan termasuk pembatasan moda transportasi, penutupan fasilitas umum, peliburan sekolah hingga kegiatan keagamaan.

Namun, hasil dari lembaga survei Kedai Kopi tentang survei Opini Publik Jabodetabek tentang PSBB dan Mudik di Masa Darurat Covid-19 menunjukan opini publik menempati efektivitas terendah, pada pembatasan kegiatan keagamaan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Hasil Survei itu disampaikan Direktur Eksekutif Kedai Kopi Kunto Adi Wibowo pada diskusi daring Satu Asa Lawan Covid-19, Rabu (22/4).

Dia menjelaskan bahwa survei ini dilakukan dari tanggal waktu mulai survei 14-19 April dengan total responden 405 yang terbagi karakteristik laki-laki 47,7% dan perempuan 52,3% menggunakan metode telesurvei.

"Hasilnya dari Efektifitas Penerapan PSBB, dengan skala 1-10 terhadap beberapa kegiatan yang dirasa efektif menghambat penyebaran Covid-19 dari 405 responden. Menilai pembatasan paling efektif itu ada moda transportasi seperti KRL, MRT dan Transjakarta, kemudian penutupan fasilitas umum, dan kemudian yang tidak paling efektif walaupun skornya sudah 8 yakni pembatasan kegiatan keagamaan. Menurut saya rekomendasi, kepada BNPB menggencarkan kembali kepada ustadz, kyai, ulama-ulama untuk masa PSBB ini tentang pembatasan kegiatan keagamaan agar kepercayaan masyarakat meningkat," ujar Kunto pada diskusi.

Sesuai data yang dipresentasikan, data penilaian publik terhadap pembatasan kegiatan keagamaan di Provinsi Jawa Barat (Bogor, Depok dan Bekasi) terendah dengan angka 7,7. Sedangkan Provinsi Banten (Tangerang Raya) pada angka 7,3 untuk penilaian pembatasan seperti jumatan dan kebaktian.

Dari dua daerah tersebut, opini masyarakatnya menilai pembatasan kegiatan keagamaan masih kurang efektif jika, untuk mencegah penyebaran virus corona. Sedangkan penilaian yang efektif itu ada pada pembatasan moda transportasi, bertujuan untuk mencegah penyebaran virus corona Jawa Barat 8,4 dan Banten 8,5.

Kemudian, di wilayah Jakarta, opini masyarakat meyakini pembatasan yang paling efektif dari urutan pertama adalah penutupan fasilitas umum, peliburan sekolah, pembatasan kegiatan sosial, pembatasan moda transportasi, pembatasan kegiatan keagamaan dan terakhir yang tidak efektif penjagaan razia-razia petugas selama PSBB.

Tentang Persepsi Mudik

Terkait mudik, survei dilakukan sebelum dicanangkannya larangan mudik oleh pemerintah. kepada warga pendatang sebanyak 49.4 persen dari responden. 29 persen menyatakan memiliki rencana mudik, 41.5 persen tidak akan mudik, dan 39.5 persen ragu-ragu.

Responden yang masih ragu-ragu memiliki alasan takut tertular di perjalanan dan takut menularkan ke keluarga di kampung. Dari survei diketahui jumlah responden tertinggi yang menyatakan ada rencana untuk mudik adalah warga pendatang Bekasi.

405 responden juga ditanya tentang rencana mudik ketika keadaan keuangan memburuk. 2.2 persen mengatakan akan tetap mudik walau keuangan memburuk, sedang 94.8 persen menyatakan tidak. Sisanya, 3.0 persen ragu-ragu.

Hal ini dikaitkan dengan pendapatan responden setelah diberlakukannya Work From Home (WFH). Setelah WFH, pendapatan 60.7 persen responden memburuk, 38.8 persen mengatakan sama saja, dan 0.5 persen mengatakan lebih baik dari sebelumnya.

Rekomendasi