Guru Besar UGM, Prof Iwan Dwiprahasto menghembuskan napas terakhirnya dalam perawatan medis di RSUP Dr Sardjito, Selasa (24/3) pukul 00.04 Wib. Pada (18/3) yang lalu, Prof Iwan dinyatakan positif virus Corona.
Rektor UGM, Panut Mulyono menerangkan bahwa Prof Iwan sebagai sosok yang santun dan lemah lembut. Beliau, sambung Panut, menyumbang banyak pemikiran dalam bidang keilmuannya bidang Farmakologi.
Panut mengenang jika Prof Iwan dikukuhkan sebagai Guru Besar UGM pada 7 Januari 2020. Saat pidato pengukuhan, lanjut Panut, Prof Iwan menyebut kurangnya informasi bukti ilmiah baru tentang obat dan farmakoterapi yang menghantui kalangan profesional kesehatan di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Panut menuturkan jika Prof Iwan menilai kelemahan ini yang dimanfaatkan duta-duta farmasi sebagai peluang dan secara gencar membanjiri para dokter dengan informasi-informasi tentang obat mereka. Keterbatasan informasi ini menjadikan off-label use of drug sangat marak dalam praktik sehari-hari.
"Dalam pidatonya beliau (Prof Iwan) mengajak para profesional kesehatan untuk senantiasa mengacu pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk menjaga kesehatan masyarakat," ujar Panut dalam sambutannya di acara doa bersama untuk Iwan Dwiprahasto di Balairung UGM, Selasa (24/3).
"Keeping up to date bukanlah sekedar slogan tetapi merupakan prasyarat fundamental dalam implementasi evidence based medicine," sambung Panut.
Di UGM, lanjut Panut, Prof Iwan mempunyai peranan dan sumbangsih yang besar dalam kemajuan kampus. Prof Iwan pernah pernah menjabat sebagai Wakil Rektor UGM dan Dekan Fakultas Kedokteran UGM.
"Beliau selalu memberikan terobosan-terobosan terbaru khususnya untuk peningkatan kualitas pendidikan dan pengajaran di UGM," ucap Panut.
Prof Iwan tutup usai diumur 58 tahun. Prof Iwan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sawitsari UGM.