Sedang melakukan liputan investigasi terhadap penambangan pasir PT LI di Desa Lebung dan Rantau Harapan, Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin, Sumatera Selatan, seorang wartawan berinisial DI (36), dikeroyok sejumlah orang tidak dikenal. Kasus ini telah dilaporkan ke polisi untuk penegakan hukum.
Kepada merdeka.com, DI menceritakan, peristiwa itu berawal ketika dia bersama tujuh warga mendatangi lokasi penambangan menggunakan perahu getek, Minggu (8/3). Sebelumnya, DI menghubungi salah satu pekerja dan disepakati merapat ke pinggir sungai agar bisa mengobrol.
Begitu hendak mendekati pinggiran sungai sambil mengambil foto, tiba-tiba datang sekelompok orang tidak dikenal menumpangi speedboat dan menabrak perahu yang ditumpangi DI dan warga.
Sontak, perahu mereka terbalik dan penumpangnya tercebur ke sungai. Seketika, para pelaku yang diperkirakan berjumlah enam sampai delapan orang, memukuli korban dan warga dengan besi secara membabi buta.
Meski turut dikeroyok, korban masih bisa berdiri di atas perahu dan memvideokan kejadian itu. Ternyata, salah satu pelaku mengetahui aksinya dan menendang korban hingga terjatuh, ponselnya pun masuk air dan rusak.
Usai mengeroyok, para pelaku kabur. Hanya saja, korban masih bisa mengingat wajah-wajah mereka yang mengenakan pakaian batik dan sepatu.
"Saya dan warga kena keroyok semua, kami tak bisa melawan karena kejadiannya begitu cepat, apalagi mereka bawa besi memukuli kami, ada pukul masih di speedboat, ada yang turun ke perahu kami," ungkap DI saat dihubungi merdeka.com, Selasa (10/3).
Atas kejadian itu, korban mengalami luka robek di jari tengah, lebam di tangan dan kepala. Begitu juga dengan tujuh warga lain, mereka mengalami nasib yang sama dan trauma atas peristiwa itu.
"Kami dibantu warga lain dibawa ke klinik, semuanya terluka," ujarnya.
Usai kejadian, korban dan warga melaporkan kasus ini ke SPKT Polres Banyuasin. Dia berharap kasus ini segera diproses dan menangkap para pelaku.
"Kami anggap ini pengeroyokan berat, terlebih ketika saya melakukan tugas jurnalistik. Pelaku harus diungkap dan ditangkap," tegasnya.
Advertisement
Penambangan Pasir Dikeluhkan Warga
DI mengatakan, dia dihubungi warga yang mengeluhkan keberadaan penambangan pasir di dua desa itu sejak dua tahun terakhir. Warga juga mempertanyakan ke mana retribusi penambangan diberikan.
"Karena itu saya melakukan investigasi, bagaimana bisa ada penambangan itu dan izin atau retribusinya ke mana," kata dia.
Dari hasil wawancara dengan salah satu pekerja penambangan, aktivitas itu sudah mendapat izin dari dua kepala desa. Hanya saja, dia belum mengkonfirmasi kepada kades dua desa terkait informasi itu.
"Ya kalau sudah koordinasi dengan kepala desa artinya bisa saja atau diduga retribusinya masuk ke sana. Tapi sejauh ini belum ada informasi karena kami keburu dikeroyok," pungkasnya.