Kasus pencoretan atlet senam artistik asal Kota Kediri, Shalfa Avrila Sania karena isu keperawanan berada di titik akhir. Hal ini menyusul adanya mediasi antara pihak keluarga atlet dengan tim kepelatihan senam nasional dan Jawa Timur di Hotel Grand Surya Kediri, Minggu malam (15/12).
Selain menyampaikan permintaan maaf, pelatih kepala Indra Sibarani memastikan Shalfa tetap menjadi atlet senam dan bisa mengikuti ajang PON 2020 di Papua.
Mediasi pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh tim kepelatihan senam Jawa Timur dan pelatih senam nasional Indra Sibarani serta kedua orangtua Shalfa yang didampingi tim penasihat hukumnya. Kedua belah pihak bersepakat untuk menyelesaikan persoalan tersebut melalui jalur perundingan kekeluargaan.
Pelatih senam nasional dan pelatih kepala Jawa Timur, Indra Sibarani menyampaikan permintaan maafnya kepada pihak keluarga Shalfa. Pihaknya akan tetap membimbing siswi kelas 12 tersebut agar berprestasi di dunia senam lantai.
"Tim pelatih tengah mempersiapkan peraih 49 medali itu di ajang PON Papua September 2020 mendatang. Mereka akan membimbing proses latihan di Kediri, karena Shalfa telah pindah sekolah dari Gresik ke SMAN 7 Kota Kediri," kata Indra Sibarani pada wartawan.
Dalam proses mediasi ini, orangtua Shalfa menerima permohonan maaf dari tim pelatih dan bersedia mengakhiri perseteruan secara kekeluargaan.
"Pihak keluarga mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar, Ketua KONI Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur dan Sesmenpora yang selama ini mendorong penyelesaian masalah tersebut," kata Imam Mukhlas, penasehat hukum keluarga Shalfa yang selama ini mendampingi.
Seperti diketahui sebelumnya, atlet senam artistik asal Kota Kediri Shalfa Avrila Sania dicoret dari skuad timnas Sea Games 2019 setelah dihantam isu keperawanan. Parahnya lagi selama mengikuti puslatda selama kurang lebih 19 bulan dan pelatnas dua bulan Shalfa hanya menerima honorarium senilai Rp200.000 per bulannya.