Pemerintah menyebut Kalimantan Timur sebagai ibu kota pengganti Jakarta. Meski daerahnya belum spesifik, namun Samboja, di Kutai Kartanegara, sementara jadi kandidat terkuat. Setidaknya, ada tujuh keunggulan yang dimiliki Samboja saat ini.
Sebagai kandidat terkuat, Kecamatan Samboja sendiri memiliki luasan wilayah 1.045,9 kilometer persegi, dan memiliki kawasan pesisir. Hingga Februari 2019, jumlah penduduk tercatat 63.781 jiwa, yang tersebar di 4 desa dan 19 kelurahan.
Di wilayah Samboja, juga dilalui Tol Balikpapan-Samarinda pertama di Kalimantan. Dengan panjang 99 km, akan menyingkat waktu perjalanan di kedua kota, dari 3 jam menjadi 1,5 jam.
Merdeka.com berkesempatan berbincang bersama Pelaksana Tugas (Plt) Camat Samboja Nurkholis, Rabu (22/8) sore. Berikut petikan wawancaranya:
Pemerintah memastikan Kalimantan Timur jadi ibu kota negara baru. Apakah Bapak sudah mengetahui kabar itu?
Iya saya tahu, baca-baca dari pemberitaan media hari ini.
Apa saja keunggulan Samboja yang dimiliki Samboja, sehingga layak jadi kandidat pengganti ibu kota negara?
Soal air bersih, di Samboja ada beberapa embung air di Sungai Merdeka dan Waduk Karya Jaya sebagai pemasok bahan baku air bersih. Belum lagi, Waduk Teritip di Balikpapan, yang berdekatan dengan Samboja.
Bicara kebutuhan listrik, di Samboja ada PLTG Senipah berkapasitas besar. Tidak hanya melayani warga Samboja, tapi juga kecamatan lain. Itu bisa jadi pendukung kalau memang Samboja terpilih.
Kami terima kabar, apa benar ada rencana pembangunan terminal peti kemas?
Itu benar. Itu sebelumnya jadi rencana Pemda Kutai Kartanegara, beberapa tahun lalu, dan lokasinya ada di Ambarawang Laut, tidak jauh dari wilayah kota Balikpapan. Belum ada tindaklanjut.
Lantas, bagaimana kehidupan sosial, politik, dan Kamtibmas di Samboja?
Sejauh ini Samboja itu kan pinggir kota, dekat laut. Dominan suku Banjar. Semua suku, hidup berdampingan. Warga biasa menerima kehadiran pendatang. Selain itu juga ada warga asal Pulau Jawa dan Bugis.
Masyarakat sangat terbuka dengan pendatang. Di sini juga kan ada beberapa perusahaan, di mana pekerjanya dari luar Kaltim. Kami terbuka, hidup rukun dengan pendatang. Itu yang ada di Samboja.
Bagaimana respons masyarakat Samboja terkait kabar Samboja jadi kandidat ibu kota negara menggantikan Jakarta?
Tidak ada respons berlebihan. Baik menerima maupun penolakan. Kami menyambut positif, kami welcome dengan rencana pemerintah, dalam hal ini Bapak Presiden.
Bagaimana dengan sinyal telekomunikasi selular di Samboja Pak?
Sinyal telekomunikasi di Samboja, paling ada sedikit titik blank spot. Tapi kalau soal internet dan telepon, cukup baik di Samboja ini.
Kami menunggu saja. Terkait ibu kota negara baru kan, sebatas komunikasi pemerintah pusat dan Pak Gubernur. Kami melihat nanti seperti apa. Komunikasi saya dengan Pemkab, dan Pemprov sejauh ini belum ada. Kita masih menunggu karena kan itu menjadi domain Pemprov Kalimantan Timur.
Awal bulan Agustus ini ada tinjauan lahan atau kawasan Pusat Latihan Tempur di Samboja. Itu seperti apa Pak? Bisa digambarkan sesuai yang Bapak ketahui?
Iya benar. Ada tinjauan dari Panglima TNI. Kita ketahui, ke depan akan ada rencana pembangunan pusat komando wilayah pertahanan di Kaltim, di Samboja.
Lokasinya ada di Ambarawang Darat. Sementara masih untuk Puslatpur. Ke depan, ada rencana jadi pusat komando wilayah pertahanan III. Bangunan pendukung sudah dimulai prosesnya.
Sebagian wilayah milik TNI. Pada intinya kita dukung kegiatan itu. Seandainya memang Samboja terpilih kami optimistis itu adalah kajian terbaik pemerintah, mendalam dan komprehensif. Dan memang, Samboja, Kaltim umumnya, layak dari banyak sisi.
Apapun keputusan pemerintah untuk Kalimantan Timur, kami mendukung.
Tujuh keunggulan mulai tol, air bersih, listrik, terminal peti kemas, sosial masyarakat dan Kamtibmas serta sarana telekomunikasi itu, memang menjadi nilai tambah Samboja. Kini tinggal menunggu keputusan Presiden Joko Widodo untuk menentukan lokasi IKN pengganti Jakarta.